NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan daerah.
Hasil riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat dari kampus didorong menjadi dasar penyusunan kebijakan publik.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), saat menjadi narasumber Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) 2026 di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang pada 17 Juni 2026.
“Kami sampaikan bahwa MoU sudah kita lakukan dengan 43 kampus, dan sekarang mungkin sudah 50-an kampus di Jawa Tengah yang menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi harus diwujudkan dalam implementasi nyata.
“MoU bukan tujuan. Yang lebih penting adalah tindak lanjutnya. Sebuah program dan kebijakan harus didasari kajian, penelitian, dan literasi keilmuan,” tegasnya.
Sejumlah kolaborasi telah menghasilkan inovasi, di antaranya:
- Universitas Diponegoro (Undip): program desalinasi air asin menjadi air tawar untuk masyarakat pesisir.
- Universitas Sebelas Maret (UNS): penanganan dan pengelolaan kawasan Rawa Pening.
- Udinus: hibah produk air minum kemasan Toyaku, edukasi gerakan stop boros pangan, serta program pemberdayaan masyarakat.
Gus Yasin menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi. Kampus didorong hadir menjawab persoalan riil masyarakat, mulai dari isu lingkungan, ketahanan pangan, hingga transformasi digital.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan LKMM-TM 2026 yang digagas Udinus sebagai ruang mahasiswa mengasah kreativitas dan inovasi.
Namun, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), disikapi bijak.
“AI memang memberikan kemudahan, tetapi jangan sampai masyarakat yang menciptakan AI justru berkurang kecerdasannya karena merasa semuanya sudah mudah,” pungkasnya.


















