NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat program budidaya 72 ribu hektare nila salin sebagai strategi adaptasi menghadapi ancaman rob di pesisir Pantura.
Langkah ini diambil menyusul meluasnya genangan air laut yang menggerus lahan pertanian dan tambak warga.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan langsung usulan percepatan program tersebut kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melalui sambungan telepon saat Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 di Pendopo Kota Tegal.
Data menunjukkan, Kabupaten Pemalang kehilangan sekitar 930 hektare lahan pertanian dan 300 hektare tambak, sementara Kabupaten Batang terdampak pada 400 hektare lahan.
Sejumlah daerah mulai melakukan adaptasi dengan mengembangkan komoditas alternatif seperti padi salin dan nila salin.
“Untuk wilayah Pantura yang terdampak rob tidak usah berkecil hati. Kita punya jatah sekitar 72 ribu hektare untuk nila salin. Tinggal dipetakan wilayahnya dan masyarakatnya dikumpulkan agar tetap berdaya,” ujar Luthfi.
Ia menegaskan rob merupakan tantangan lingkungan yang tidak sepenuhnya bisa dicegah.
Karena itu, strategi adaptasi ekonomi masyarakat harus diperkuat, selain mitigasi melalui tanggul laut dan rehabilitasi mangrove.
Selain fokus pada penanganan rob, Luthfi menekankan swasembada pangan tetap menjadi prioritas pembangunan Jawa Tengah 2026.
Ia meminta daerah memperkuat antisipasi musim kemarau melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, sistem pompanisasi dan pipanisasi, serta menjaga produktivitas pertanian.
Rembug Pembangunan di Tegal dihadiri kepala daerah wilayah Bregasmalang (Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Pemalang) dan Petanglong (Batang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan), unsur Forkopimda, perangkat daerah provinsi, serta masyarakat.


















