Berita

Apresiasi Penanganan TB di Jawa Tengah, Wamendagri Dorong Jadi Model Nasional

×

Apresiasi Penanganan TB di Jawa Tengah, Wamendagri Dorong Jadi Model Nasional

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus (foto: Pemprov Jateng)
Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus (foto: Pemprov Jateng)

NARASIKOE.COM – Model penanganan Tuberkulosis (TB) terintegrasi yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai berhasil dan berpotensi menjadi acuan pencegahan penyakit menular tingkat nasional.

Apresiasi tinggi tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, saat menghadiri Peninjauan Layanan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis dan Spesialis Keliling di Pendopo Kabupaten Demak, Rabu, 14 Oktober 2026.

Wamendagri menilai langkah proaktif Jawa Tengah mampu menjangkau penemuan kasus di masyarakat secara efektif.

“Saya akan mengangkat model penanganan TB di Jawa Tengah ini menjadi model yang harus diadopsi oleh seluruh kabupaten yang ada di Indonesia,” ujar Akhmad Wiyagus.

Peninjauan di Demak tersebut merupakan rangkaian kunker Wamendagri bersama Wakil Menteri Kesehatan, Benyamin Paulus Oktavianus, setelah sebelumnya menyisir fasilitas pelayanan di Kabupaten Jepara dan Kudus pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Merespons apresiasi tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa kunci keberhasilan penanggulangan TB tidak berhenti pada pengobatan pasien yang ditemukan, melainkan pada pelacakan kontak erat.

“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana menemukan kasusnya, kemudian pengobatannya. Namun, yang tidak kalah penting adalah kontak erat dari pasien TB juga harus ditindaklanjuti. Ini menjadi langkah strategis agar penanggulangan TB di Jawa Tengah bisa lebih efektif,” terang Sumarno.

Sumarno menjelaskan, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada keluarga atau lingkungan terdekat pasien sangat krusial untuk memutus mata rantai penularan.

Selain penguatan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit dari pemerintah pusat, Pemprov Jateng mengandalkan pembentukan Desa Siaga TB.

Di Kabupaten Demak, kolaborasi lintas sektor diperkuat dengan melibatkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk memberikan edukasi sebelum pemeriksaan medis dilakukan.

Inovasi pelacakan berbasis komunitas ini diharapkan dapat terus direplikasi ke seluruh wilayah Jawa Tengah demi mempercepat penemuan kasus aktif dan pengobatan tuntas.