NARASIKOE.COM – Suhu politik internal Nahdlatul Ulama (NU) kian memanas kurang dari sepekan menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Jombang pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.
Merespons persaingan kepemimpinan yang kian terbuka di tingkat pusat, sejumlah kiai sepuh bersama kader muda NU Jawa Tengah menggelar pertemuan terbatas di Hotel Gracia, Kota Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026 malam.
Pertemuan tersebut menghasilkan kritik tajam terhadap manuver elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus memunculkan poros figur alternatif untuk menakhodai jam’iyah.
Pengasuh Pondok Pesantren Bareng, Jekulo, Kudus, KH Ahmad Badawi Basyir, menilai kegaduhan yang terjadi menjelang muktamar justru bersumber dari tindakan jajaran pengurus pusat.
“Kondisi yang makin memanas ini justru disulut oleh elit pengurus PBNU saat ini yang harusnya bisa memberikan ruang dan suasana teduh,” ungkap KH Ahmad Badawi Basyir.
KH Ahmad Badawi Basyir menyoroti secara khusus agenda pertemuan di kantor PBNU pada Kamis, 20 Agustus 2026, yang dinilainya sarat akan kepentingan kelompok.
Forum yang mengatasnamakan kiai sepuh tersebut dinilai ganjil karena undangannya ditandatangani secara personal oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tanpa melibatkan pimpinan tertinggi, Rais Aam KH Miftachul Akhyar.
“Itu jelas politisasi yang makin memperparah dan memperjelas konflik antar elit PBNU. Pertemuan kemarin menunjukkan PBNU semakin nyata terbelah dua,” tegas KH Ahmad Badawi Basyir.
Tawarkan Gus Yusuf Sebagai Figur Rekonsiliatif Jam’iyah
Sorotan kiai Jawa Tengah ini sejalan dengan ulasan buletin NU Pos edisi 21 Agustus 2026 yang menganalisis adanya tarik-ulur kepentingan politik tingkat tinggi, pengondisian formasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), serta potensi keterlibatan faksi luar.
Guna menghindari berulangnya dinamika muktamar masa lalu yang diwarnai benturan faksi, KH Ahmad Badawi Basyir meminta para peserta muktamar (muktamirin) dari tingkat wilayah dan cabang untuk bersikap lebih jernih.
Pemilihan pimpinan tertinggi NU diharapkan tidak terjebak pada figur yang lihai bermanuver, melainkan murni demi kemaslahatan organisasi dan keterjagaan ajaran muassis.
KH Ahmad Badawi Basyir lantas menyebut nama Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), sebagai sosok alternatif yang berpotensi menjadi titik temu seluruh warga Nahdliyin.
“Pastinya, semua calon baik menurut tim masing-masing. Namun, yang menurut saya insya Allah di-ridhoi oleh Allah, diridai para muassis, dan sedikit daya tolaknya di tengah-tengah warga NU adalah Yusuf yang ada Chudlorinya,” kata KH Ahmad Badawi Basyir.
Kehadiran dukungan dari akar rumput Jawa Tengah untuk Gus Yusuf diharapkan mampu menjadi jalan tengah guna meredam ketegangan faksi jelang pelaksanaan muktamar di Jombang.


















