Berita

Sentil Fenomena ‘Meja Makan Sunyi’, Sekda Jateng Warning Orang Tua: Jangan Serahkan Anak ke Algoritma HP!

×

Sentil Fenomena ‘Meja Makan Sunyi’, Sekda Jateng Warning Orang Tua: Jangan Serahkan Anak ke Algoritma HP!

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengenakan pakaian adat saat memimpin upacara Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 (foto: Pemprov Jateng)
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengenakan pakaian adat saat memimpin upacara Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 (foto: Pemprov Jateng)

NARASIKOE.COM – Derasnya arus disrupsi teknologi digital kini telah menguasai ruang-ruang privat keluarga secara radikal dan sulit dibendung.

Fenomena ini memicu peringatan keras dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar para orang tua tidak lepas tangan dan justru menyerahkan pola asuh serta masa depan anak-anak mereka kepada kendali algoritma digital.

Pesan menohok tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat membacakan amanat resmi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji.

Sumarno bertindak sebagai inspektur upacara pada Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin, 29 Juni 2026.

Menurut Sumarno, gawai (gadget) yang berada di genggaman anak-anak saat ini berpotensi besar membentuk pola pikir yang melenceng dari nilai budaya dan agama, karena disetir oleh algoritma digital yang tidak memiliki moralitas.

“Jangan biarkan meja makan kita sunyi karena semua anggota keluarga sibuk menatap layar HP masing-masing. Wahai para ayah, letakkan gawai Anda di rumah. Peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog,” cetus Sumarno di hadapan para peserta upacara yang tampil anggun mengenakan pakaian adat Jawa Tengah.

Dampak Buruk Kecanduan Layar bagi Tumbuh Kembang Anak

Jika pengawasan orang tua longgar, infiltrasi teknologi digital ini dinilai dapat memicu berbagai dampak negatif jangka panjang yang merusak kualitas sumber daya manusia (SDM). Pemprov Jateng menyoroti beberapa ancaman nyata yang harus diwaspadai:

  • Degradasi Sosial: Anak-anak terancam kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi secara nyata di dunia luar.
  • Krisis Empati: Pudarnya kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar karena terlalu fokus pada dunia maya.
  • Masalah Kesehatan: Anak menjadi malas bergerak (sedentary lifestyle) yang memicu gangguan fisik.
  • Ancaman Keamanan: Masuknya kejahatan siber (cyber crime) secara langsung tanpa permisi ke ruang keluarga.

Bonus Demografi: Berkah Luar Biasa atau Bencana Mengerikan?

Lebih lanjut, Sumarno mengingatkan bahwa momentum Harganas 2026 harus menjadi ajang refleksi nasional yang mendalam.

Pasalnya, saat ini Indonesia sedang berada di puncak fase bonus demografi, sebuah jendela peluang historis langka di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) jauh mendominasi.

Fenomena emas ini hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu bangsa menuju impian besar Indonesia Emas tahun 2045. Namun, Sumarno mengingatkan bahwa bonus demografi ini ibarat pisau bermata dua.

Jika dikelola dengan salah, fase ini bukan menjadi batu loncatan ekonomi dunia, melainkan bergeser menjadi bencana demografi yang mengerikan akibat rusaknya mental generasi penerus oleh kecanduan digital.

Guna mengantisipasi kegagalan tersebut, Pemprov Jateng menekankan kunci penyelamatan yang terletak pada tiga pilar utama pembangunan keluarga, yaitu:

  1. Kesehatan yang optimal sejak dini.
  2. Pendidikan karakter yang kuat di lingkungan rumah.
  3. Ketahanan mental anak dalam menyaring informasi luar.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengguyur kebijakan pro-keluarga, memperkuat jaringan pengaman sosial, dan mempermudah akses layanan dasar. Kendati demikian, benteng pertahanan utama dan kunci sukses pengasuhan tetap berada penuh di tangan orang tua.