NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengakselerasi program pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Tak hanya memberikan bantuan bahan pokok, Pemprov Jateng menggandeng BUMD hingga pihak swasta untuk menggerakkan perekonomian desa secara mandiri.
Salah satunya diwujudkan melalui Program Desa Dampingan oleh RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Program intervensi tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Kamis 13 Agustus 2026.
Gus Yasin ini menjelaskan, angka kemiskinan Jawa Tengah berdasarkan data BPS terbaru telah turun menjadi 9,21 persen.
Namun, angka kemiskinan Kabupaten Wonogiri masih berada di angka 9,59 persen atau di atas rata-rata provinsi, di mana Kecamatan Eromoko menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penanganan prioritas.
“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri. Sehingga perlu diintervensi,” ujar Gus Yasin.
Dalam kunjungan tersebut, total bantuan yang disalurkan mencapai Rp511,11 juta. Anggaran ini dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan dasar hingga penguatan modal usaha warga.
Bantuan tersebut meliputi pembenahan 4 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp40 juta, bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Rp20 juta, 4 paket modal usaha Rp12 juta, serta sanitasi jambanisasi Rp19,11 juta.
Dukungan juga mengalir dari dunia usaha, seperti PT Djarum yang menyalurkan 5 unit Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp370 juta, serta PT Jamkrida Jateng yang membangun 15 unit jambanisasi senilai Rp50 juta.
Gus Yasin menegaskan bahwa bantuan ekonomi ini wajib dikelola agar menghasilkan pendapatan berlanjut (income) bagi warga penerima manfaat.
“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income. Bantuan pemerintah diharapkan tidak berhenti sebagai barang yang diterima masyarakat, melainkan berkembang menjadi aset produktif,” tegasnya.
Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, mengungkapkan pendampingan telah berjalan sejak Januari 2026 berdasarkan pemetaan potensi pertanian, peternakan, UMKM, dan kesehatan.
Di sektor peternakan dan pertanian, pihaknya memberikan tiga unit mesin pencacah rumput yang juga berfungsi mengolah kotoran ternak menjadi pupuk kompos. Sementara untuk UMKM seperti perajin batik, rengginang, wayang kulit, hingga pengerajin gamelan, pendampingan diarahkan pada perluasan pemasaran.
Pendampingan juga menyasar aspek kesehatan, khususnya penanganan balita berisiko stunting, balita stunting, serta pemantauan lanjutan bagi warga dengan riwayat gangguan kesehatan jiwa.
Kepala Desa Minggarharjo, Tri Wiyono, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut karena sangat membantu menutup keterbatasan anggaran APBD desa.
“Harapannya mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” pungkas Tri Wiyono.


















