NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengoptimalkan penanganan rumah tidak layak huni (RTLH) serta backlog perumahan sebagai langkah konkret memangkas angka kemiskinan di wilayahnya.
Pada momentum peringatan usia Jawa Tengah yang ke-81, perbaikan hunian dilaksanakan terintegrasi dengan penguatan ekonomi keluarga penerima manfaat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pendekatan tersebut diambil agar keluarga penerima bantuan tidak hanya mendapatkan hunian yang layak dan sehat, tetapi juga memperoleh solusi atas persoalan pendidikan dan pekerjaan.
“Kita bantu tidak hanya rumahnya. Kalau anaknya ada yang putus sekolah, kita sekolahkan. Kalau butuh pekerjaan, bantuan sosialnya juga kita dorong,” kata Ahmad Luthfi saat menyerahkan bantuan perbaikan RTLH di Desa Gondang, Sragen.
Langkah ini berjalan seiring dengan realisasi penanganan backlog perumahan di Jawa Tengah. Sepanjang 2025, sebanyak 274.514 unit rumah berhasil ditangani, sehingga angka backlog yang mulanya mencapai 1.332.968 unit berhasil ditekan menjadi 1.058.454 unit pada awal 2026.
Memasuki Triwulan II-2026, Pemprov Jateng bersinergi dengan berbagai pihak telah menangani 65.449 unit rumah dari berbagai pendanaan seperti APBN, APBD, Dana Desa, CSR, dan Baznas. Khusus alokasi APBD Provinsi Jawa Tengah, realisasi hingga pertengahan tahun ini mencapai 1.625 unit dari target tahunan 5.231 unit.
Solusi Komprehensif: Dari Kelayakan Bangunan Hingga Peluang Kerja

Data awal 2026 mencatat dari total 1.058.454 unit backlog, porsi terbesar merupakan backlog kelayakan bangunan sebanyak 762.064 unit, sementara backlog kepemilikan tercatat 296.390 unit. Oleh karena itu, intervensi terbesar Pemprov Jateng difokuskan pada peningkatan kualitas rumah yang sudah dihuni masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya pendampingan lanjutan bagi warga setelah rumah mereka diperbaiki. Hal tersebut terlihat saat melakukan peninjauan ke rumah Sailah (50), warga Desa Ayamputih, Buluspesantren, Kebumen.
Selain memastikan kondisi fisik rumah sudah berlantai plester dan berdinding kokoh, Taj Yasin turut menghubungkan anak sulung Sailah yang baru lulus SMA ke jaringan bursa kerja dan pelatihan vokasi.
“Anaknya sudah lulus SMA. Kita coba link-kan (hubungkan) ke dunia usaha atau pekerjaan,” ujar Taj Yasin Maimoen.
Manfaat serupa dirasakan Hadi Mulyono, warga Kabupaten Kudus, yang mengaku terbantu oleh program renovasi rumah tersebut setelah bertahun-tahun terkendala keterbatasan biaya.
Hingga Triwulan II-2026, masih terdapat 993.005 unit backlog yang menjadi tantangan bersama. Pemprov Jateng berkomitmen melanjutkan program ini secara berkelanjutan untuk memastikan hunian yang sehat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.


















