Berita

Ubah Sampah Jadi Energi Listrik dan Bahan Bakar, Pemprov Jateng Raih Penghargaan

×

Ubah Sampah Jadi Energi Listrik dan Bahan Bakar, Pemprov Jateng Raih Penghargaan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima piala penghargaan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI pada Malam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi di Bali (foto: Pemprov Jateng)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima piala penghargaan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI pada Malam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi di Bali (foto: Pemprov Jateng)

NARASIKOE.COM – Komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menangani persoalan lingkungan melalui konsep pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir membuahkan pengakuan di tingkat nasional.

Pemprov Jateng resmi meraih penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Tempo Media Group dalam kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam ajang Malam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali Batch II 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, pada Jumat, 28 Agustus 2026 malam.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan sampah di wilayahnya tidak lagi mengandalkan metode konvensional kumpul-angkut-buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Pengelolaan sampah kita bagi dalam beberapa klaster. Untuk volume besar kita dorong aglomerasi dan regional, termasuk untuk PSEL. Sementara yang 100-200 ton per hari kita arahkan menggunakan RDF,” kata Ahmad Luthfi pada Jumat, 28 Agustus 2026 malam.

Penerapan PSEL, RDF, hingga Desa Mandiri Sampah

Ahmad Luthfi memaparkan, penanganan sampah skala besar di atas 1.000 ton per hari diarahkan melalui skema Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) bekerja sama dengan Danantara di kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, Tegal Raya, hingga Soloraya.

Sementara untuk volume 100 hingga 200 ton per hari diproses menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar industri semen, seperti yang diterapkan di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kudus, dan Magelang.

Selain pengolahan di hilir, Pemprov Jateng juga berencana mengolah tumpukan sampah lama di TPA Jatibarang Semarang menjadi bahan bakar solar bersinergi dengan TNI AD, serta membuka investasi di kawasan Soloraya.

Kendati demikian, Ahmad Luthfi menekankan pentingnya intervensi di sektor hulu melalui program Desa Mandiri Sampah.

“Persoalan sampah tidak hanya bagaimana mengolah timbunan di TPA. Dari hulunya juga harus kita selesaikan. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menambahkan, capaian ini beserta prestasi beberapa daerah di Jateng—seperti Kabupaten Wonosobo (Lingkungan ASRI), Kabupaten Rembang dan Kota Tegal (Layanan Kesehatan), serta Kota Salatiga (Layanan Pendidikan)—menjadi pelecut semangat dalam membenahi pelayanan publik.

“Dari Jawa Tengah banyak yang dapat penghargaan, termasuk pemerintah provinsi. Ada Kabupaten Rembang, Kota Tegal, Kota Salatiga, dan Kabupaten Wonosobo. Ini menjadi motivasi kita untuk lebih giat dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat,” tegas Ahmad Luthfi.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas nasional menuju target zero waste pada 2029, dan pemerintah pusat siap memberikan insentif fiskal bagi daerah yang berprestasi.