Opini

Ini Penggagas Counter-Press yang Bikin Sepak Bola Bergairah

×

Ini Penggagas Counter-Press yang Bikin Sepak Bola Bergairah

Sebarkan artikel ini
Darrel F Apriliano
Darrel F Apriliano

Oleh: Darrel F Apriliano

COUNTER-PRESS, atau yang beken dengan sebutan gegenpressing adalah taktik dalam sepak bola modern yang pada prinsipnya menekan lawan seketika setelah kehilangan bola. Ralf Rangnick, pelatih asal Jerman, merupakan penggagas utama taktik ini.

Rangnick, kini pelatih Timnas Austria dan berusia 68 tahun, dijuluki sebagai ’’Godfather of Gegenpressing’’. Dia mendapat pencerahan taktik ini pada 1983 saat timnya, Viktoria Backnang, beruji coba melawan Dynamo Kyiv yang ditangani Valeriy Lobanovskyi.

Rangnick mematangkan sistem zona marking berbasis orientasi bola yang dipadukan dengan tekanan tinggi. Pada Desember 1998, dia pernah mengupas konsep taktik radikal ini dalam acara televisi Jerman ZDF Sportstudio.

Sistem racikan Rangnick memang tak bersinar terang di tangannya. Orang yang memopulerkan gegenpressing dan sukses besar justru rekan senegaranya, Juergen Klopp.

Klopp menyempurnakan gaya main ini di level tertinggi bersama Borussia Dortmund dan Liverpool. Klopp mencapai puncak dalam karier kepelatihannya bareng Liverpool.

Juergen bukan hanya membangkitkan The Reds dari keterpurukan, melainkan juga meninggalkan legacy di Anfield. Namanya sangat harum dan dihormati.

Klopp sudah meninggalkan Anfield pada 2024. Saat ini dia dipercaya membesut Timnas Jerman.

Pelatih yang menyukai taktik counter-press (gegenpressing) umumnya berasal dari Jerman atau terinspirasi oleh sekolah taktik sepak bola Jerman. Filosofi bermain rancangan Rangnick memengaruhi banyak manajer modern.

Klopp tercatat sebagai murid paling sukses dari Rangnick yang menjadikan gegenpressing sebagai identitas utama. Klopp mengadopsi prinsip transisi cepat dan tekanan intensitas tinggi selepas kehilangan penguasaan bola.

Dua pelatih Jermain lain yang mengikuti jejak Klopp adalah Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann. Tuchel kini membesut Timnas Inggris, sedangkan Nagelsmann masih nganggur setelah dipecat dari Timnas Jerman.

Penganut counter-presss di luar Jerman tentu saja Pep Guardiola. Coach berkebangsaan Spanyol ini dikenal kental dengan penguasaan bola.

Pep memodifikasi counter-press sebagai cara instan mematikan serangan balik lawan dalam beberapa detik pertama kehilangan bola. Dia meraup kejayaan ketika menukangi Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City.

Meski sama-sama menerapkan gegenpressing, ada perbedaan antara sistem Rangnick dan Klopp. Perbedaan utama terletak pada fokus area (zona) dan aturan detik saat merebut bola kembali.

Rangnick menekankan aturan ketat 8 detik untuk merebut bola dan langsung menembak dalam 10 detik. Sementara Klopp fokus menutup ruang operan lawan secara kolektif di area sekitar bola untuk dijadikan peluang transisi menyerang kilat.

Metode Klopp terbukti lebih baik dan menghasilkan banyak trofi. Kendati begitu, dia tetap mengakui jasa besar seniornya tersebut.

Karakteristik gegenpressing ala Klopp mengedepankan cara-cara ini. Pemain terdekat langsung mengerubungi atau menekan pemegang bola, sedangkan pemain lain menutup jalur operan terdekat (counter-pressing).

Klopp memilih tidak kaku pada formasi awal, tapi mengandalkan intensitas agresif menyeluruh di area sepertiga lapangan lawan. Dia juga meminta timnya membiarkan situasi transisi menjadi kacau bagi lawan karena saat itulah lawan paling rapuh.

Dari situasi itu, para pemainnya memanfaatkan kekacauan lawan untuk langsung melancarkan serangan balik kilat yang mematikan. Filosofi Klopp terlihat sempurna di Liverpool.

Ada syarat tertentu agar gegenpressing berjalan seperti yang diinginkan. Syaratnya adalah kombinasi ketahanan fisik luar biasa, disiplin kolektif yang tinggi, pemahaman ruang yang cepat, dan kecepatan transisi pemain saat kehilangan bola dalam rentang waktu krusial 6 detik pertama.

Diakui atau tidak, sepak bola counter-press (gegenpressing) membuat sepak bola lebih bergairah dan hidup. Intensitas tinggi itu juga membikin penonton setia menikmati pertandingan hingga laga tuntas.