Oleh: Darrel F Apriliano
MUSIM baru kompetisi sepak bola dunia, terutama di Eropa, kembali bergulir. Musim 2026-2027 diprediksi berjalan lebih seru dan menarik dibanding musim sebelumnya.
Di Benua Biru, ada lima liga yang diakui paling top saat ini. Kelimanya adalah Premier League (Inggris), LaLiga (Spanyol), Bundesliga (Jerman), Serie A (Italia), dan Ligue 1 (Prancis).
Premier League dianggap sebagai liga terbaik di dunia karena persaingan yang sangat ketat, intensitas pertandingan yang tinggi, kekuatan finansial yang merata di setiap klub, dan kehadiran pemain serta pelatih top global. Ketatnya rivalitas itu ditandai setiap tim papan bawah bisa mengalahkan tim papan atas kapan saja.
Perburuan gelar juara dan zona degradasi juga selalu sengit hingga akhir musim. Tidak ada dominasi mutlak oleh satu atau dua klub saja seperti di beberapa liga Eropa lain.
Selain itu, pendapatan hak siar televisi dibagi lebih merata ke semua klub. Tim-tim medioker atau promosi memiliki dana besar untuk membeli pemain berkualitas. Tak heran kalau investasi masif membuat fasilitas dan infrastruktur klub terus berkembang.
Liga Primer Inggris punya ciri khas, yakni gaya bermain cepat, fisik yang kuat, dan transisi kilat menyajikan tontonan menarik. Atmosfer stadion juga terlihat luar biasa di setiap pertandingan.
Musim lalu Arsenal memenangi titel juara Premiership setelah berhasil mengatasi tekanan hebat dari Manchester City. Namun, gelar yang diraih The Gunners meninggalkan catatan kurang baik.
Meriam London terlalu mengandalkan gol dari set piece (bola mati), khususnya sepak pojok. Para pengamat pun melabeli anak-anak asuhan Mikel Arteta itu dengan sebutan sinis ’’Corner FC’’.
Musim ini Premier League sepertinya masih terbagi dalam 2 gaya bermain secara umum. Dua style itu adalah counter-press (gaspol), atau pragmatis (main aman).
Counter-press adalah taktik saat tim langsung menekan pemain lawan secara agresif untuk merebut kembali bola dalam detik-detik pertama setelah kehilangan penguasaan. Tujuan utamanya menghentikan serangan balik lawan dan memanfaatkan posisi lawan yang belum siap.
Lewat gaya counter-press, pemain langsung mengubah fokus dari menyerang ke bertahan seketika. Beberapa pemain mendekati pemegang bola untuk menutup ruang umpan. Seluruh lini bergerak bersama agar lawan tertekan dan membuat kesalahan.
Kelebihan counter-press adalah menciptakan peluang gol cepat dari area pertahanan lawan dan menekan mental lawan. Sementara kelemahannya, tenaga pemain terkuras dan meninggalkan ruang kosong di belakang jika pressing berhasil dilewati lawan.
Lalu, apa konsep dasar sepak bola pragmatis? Pendekatan pragmatis mementingkan hasil daripada keindahan permainan.
Fokus utamanya adalah efisiensi di segala lini melalui pertahanan rapat dengan blok rendah dan pengawalan ketat untuk meminimalisasi ruang tembak lawan.
Tim menekan dengan serangan balik cepat dengan memanfaatkan transisi secepat mungkin begitu merebut bola dari kaki lawan. Prinsip dasarnya memilih opsi aman yang efektif.
Ada enam klub yang disebut-sebut sebagai calon kampiun Premier League musim ini. Arsenal, Liverpool, dan Manchester City ditempatkan sebagai favorit utama.
Adapun favorit pelapis diisi Chelsea, Manchester United (MU), dan Tottenham Hotspur. Keenam tim tersebut biasa dilabeli sebagai Big Six.
Manajer Liverpool Andoni Iraola dan Enzo Maresca, manajer Manchester City, dikenal sebagai penganut sepak bola gaspol. Dua head coach itu mengedepankan permainan agresif dengan pressing tinggi.
Mikel Arteta, manajer Arsenal, dan Manajer MU Michael Carrick cenderung ke gaya pragmatis. Sementara Xabi Alonso, bos Chelsea, dan Manajer Tottenham Roberto De Zerbi lebih suka menerapkan gaya counter-press.
Pada akhir musim nanti gaya apa yang akan berjaya? Kita tunggu saja. Yang pasti bolamania lebih terhibur dengan sepak bola gaspol.


















