NARASIKOE.COM – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong agar tradisi keilmuan dan keagamaan yang telah berjalan di lingkungan pesantren terus diwariskan kepada generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Haflah Akhirussanah ke-8 Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Muntilan, Kabupaten Magelang, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Pesantren yang didirikan oleh Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa sekitar tahun 1820 ini memiliki rekam sejarah panjang dalam melawan kolonialisme, di mana sang pendiri dikenal sebagai salah seorang senopati Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini menilai rutinitas pembacaan Al-Qur’an dan kitab Dalailul Khairat yang dijaga para santri memiliki andil besar dalam melahirkan sosok ulama yang alim.
“Di dalam khataman Al-Qur’an, ada Dalailul Khairat. Ini mengantarkan banyak orang menjadi alim. Sebabiyah yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian Dalailul Khairat,” kata Taj Yasin pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Taj Yasin menambahkan, kekuatan dari pengamalan kitab Dalailul Khairat terletak pada kedisiplinan dan konsistensi menjalankannya setiap hari.
“Dalailul Khairat dibagi dari Senin, Selasa sampai kembali Senin lagi. Ini meringankan wiridan supaya kita bisa istiqamah,” ujar Taj Yasin.
Dia juga mengapresiasi keberadaan majelis ilmu yang terus hidup dan berkembang di Jawa Tengah.
“Atas nama pemerintah, saya senang kalau pengajian-pengajian seperti ini masih berjalan di wilayah Jawa Tengah,” tuturnya.
Amanah Orang Tua dan Pengabdian Kyai
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, KH Aly Qoishor Ahmad Abd Haq (Gus Mad), menguraikan bahwa keberlanjutan pesantren hingga kini merupakan bentuk tanggung jawab moral atas kepercayaan masyarakat.
Gus Mad menggambarkan pengabdian pengasuh pesantren sebagai sebuah amanah besar untuk melayani dan mendidik para santri.
“Jenenge wong akon niku hakikine juragan sing dikon jenenge kuli. Dadi mboten kyai tapi kuli (Namanya orang yang menyuruh itu sebenarnya adalah juragan, sedangkan orang yang disuruh disebut kuli. Jadi, bukan kyai, tetapi kuli),” kata Gus Mad.


















