Berita

Ardhian Amadeo Tawarkan Solusi Perawatan Mesin PSEL, Cegah Kerugian Ratusan Juta

×

Ardhian Amadeo Tawarkan Solusi Perawatan Mesin PSEL, Cegah Kerugian Ratusan Juta

Sebarkan artikel ini
Ardhian Amadeo Reswandra (kedua dari kanan) usai sidang tugas akhir S1 Teknik Mesin Undip Semarang
Ardhian Amadeo Reswandra (kedua dari kanan) usai sidang tugas akhir S1 Teknik Mesin Undip Semarang

NARASIKOE.COM – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Ardhian Amadeo Reswandra. Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini berhasil meraih gelar sarjana berpredikat Cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,58.

Ardhian sukses merampungkan masa studinya tepat waktu dalam kurun waktu 4 tahun kurang 3 hari usai mempertahankan riset tugas akhir di hadapan para dosen penguji.

Penelitian Ardhian menyoroti urgensi keberadaan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Meski efektif menyusutkan volume sampah hingga 90–95 persen dengan efisiensi pembakaran 98,5 persen, sistem kelistrikan PSEL sangat rentan lumpuh total jika salah satu komponennya mengalami kerusakan mendadak.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Terima kasih untuk dosen pembimbing, penguji, dan orang tua. Harapan saya, strategi pemeliharaan mesin ini bisa diaplikasikan langsung di lapangan agar operasional PSEL efisien dan mendukung kemandirian energi bersih,” ujar Ardhian usai sidang kelulusannya.

Dalam risetnya, Ardhian menemukan bahwa pola perawatan mesin PSEL yang masih reaktif (unplanned repair) menelan biaya 30 hingga 50 persen lebih mahal ketimbang perawatan pencegahan rutin.

Untuk memangkas pemborosan tersebut, ia merumuskan skema Risk Based Inspection (RBI) yang memadukan evaluasi peluang kerusakan, dampak operasional, dan estimasi biaya perbaikan.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan Ardhian, terdapat tiga komponen kritis yang memiliki risiko kerusakan tertinggi:

  1. Screw Conveyor (Peluang kerusakan mencapai 69,9%)
  2. Superheater Tubes (Peluang kerusakan mencapai 63,2%)
  3. Rotor & Bearings

Hemat Potensi Kerugian Ratusan Juta Rupiah

Sebagai langkah antisipasi, Ardhian merancang skadul inspeksi proporsional. Komponen berisiko tinggi direkomendasikan menjalani uji ketebalan ultrasonik tiap tiga bulan sekali, sedangkan komponen berisiko rendah cukup dispesifikasi lewat inspeksi visual tiap enam bulan.

Secara kalkulasi finansial, penerapan metode RBI terbukti sangat krusial. Penghentian operasional mesin (breakdown) secara mendadak selama 72 jam berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp928 juta.

Inovasi ini diharapkan dapat diimplementasikan oleh pemerintah maupun operator PSEL guna menjamin kelancaran pasokan energi listrik ramah lingkungan sekaligus menuntaskan persoalan darurat sampah nasional.