NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa kasus perundungan (bullying) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Pernyataan ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, merespons munculnya kasus perundungan di beberapa daerah, seperti kasus siswa MTs di Kabupaten Pati hingga insiden di Kabupaten Pemalang.
Mewakili Gubernur Ahmad Luthfi, Taj Yasin menegaskan bahwa penanganan perundungan tidak boleh hanya dibebankan kepada pihak sekolah, melainkan harus menyasar lingkungan keluarga, masyarakat, hingga pondok pesantren.
“Bullying ini menjadi PR kita bersama. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga sampai ke pesantren. Karena itu, kita harus betul-betul melakukan langkah pencegahan dan edukasi,” tegas Taj Yasin di Semarang, Kamis, 6 Agustus 2026.
Solusi Preventif: Forum Anak Pesantren dan Peran Orang Tua
Sebagai langkah konkret, Pemprov Jateng telah mendorong hadirnya Forum Anak Pesantren sebagai wadah edukasi untuk menciptakan ekosistem belajar yang ramah dan aman bagi para santri.
Selain itu, penguatan karakter dan pembentukan suasana belajar yang nyaman juga mulai diterapkan sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Gus Yasin mengimbau agar setiap penanganan perundungan dilakukan dengan menganalisis akar masalahnya secara mendalam, mengingat perilaku perundung sering kali terpengaruh oleh kondisi di luar sekolah.
“Permasalahan itu harus kita analisis. Jangan-jangan sumbernya ada di lingkungan sekitar, kemudian terbawa ke sekolah. Sekolah harus memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua agar perilaku anak di rumah dan di sekolah saling dipantau,” imbuhnya.
Menanggapi maraknya laporan dugaan kekerasan anak belakangan ini, Taj Yasin menilai hal tersebut sebagai sinyal positif atas meningkatnya kesadaran publik.
“Dengan adanya aduan-aduan ini saya justru senang. Artinya, semakin banyak yang berani melapor, semakin banyak pula kasus yang bisa kita tangani,” pungkasnya.


















