NARASIKOE.COM – Penyebaran berita bohong atau hoaks masih menjadi ancaman serius bagi pemerintah maupun masyarakat Jawa Tengah.
Diskomdigi Jateng mencatat dampak hoaks terasa di dua sisi: merusak reputasi pemerintah melalui akun palsu pejabat, serta menimbulkan kecemasan dan kerugian material bagi masyarakat.
Kepala Diskomdigi Jateng, Lilik Henry Ristanto menegaskan hoaks adalah informasi tidak benar yang disebarkan dengan niat buruk. “Informasi provokatif bisa menimbulkan mispersepsi dan mendorong tindakan yang salah,” ujarnya, 12 Juni 2026.
Sebagai langkah penanganan, Diskomdigi memilih pendekatan edukasi dengan mempublikasikan konten hoaks menggunakan stempel “Hoaks” dan meneruskan laporan tertentu ke Kementerian Kominfo.
Pemprov Jateng juga membentuk Padhang (Pantauan Data Hoax Jawa Tengah) sebagai kanal verifikasi dan edukasi publik, lahir dari keresahan warga atas konten tidak lazim di media sosial.
Diskomdigi mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital dengan sikap skeptis dan kebiasaan cek ulang sebelum menyebarkan informasi.
“Kalau ragu, laporkan atau kirimkan ke Padhang via WhatsApp atau kanal resmi lain,” imbau Lilik.
Sorotan serupa datang dari akademisi Swita Amallia Hapsari, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Ia menilai banyak influencer lebih mengejar views tanpa memperhatikan etika.
“Ketika konten memicu gaduh, dalih yang sering muncul adalah ‘ini opini pribadi’, padahal dampaknya bisa merugikan masyarakat,” katanya.
Swita mengenalkan istilah influencer otoritatif, yakni kreator yang ahli di bidangnya, seperti dokter Gia Pratama di kesehatan atau Dosen Update di ekonomi.
Menurutnya, keberadaan mereka bisa menjadi penyeimbang di tengah banjir informasi. Ia juga membedakan influencer yang mengejar viral dengan buzzer yang bekerja sistematis atas pesanan opini tertentu.
Ia menekankan pentingnya literasi informasi dengan prinsip CABE:
- Cakap menggunakan tools,
- Aman agar informasi tidak merugikan,
- Budaya dalam berdiskusi digital,
- Etika terkait hak cipta dan keterbukaan penggunaan AI.
“Personal branding berbasis nilai akan membantu kreator menjadi influencer otoritatif yang memberi edukasi kredibel kepada audiens,” ujarnya.
Swita mengapresiasi kanal Padhang milik Pemprov Jateng, namun menekankan perlunya tindak lanjut edukasi agar masyarakat makin paham cara menangani hoaks tanpa harus menjadi korban terlebih dahulu.


















