Berita

Gus Yasin Dorong Jamu Tradisional Jadi Ekonomi Kreatif

×

Gus Yasin Dorong Jamu Tradisional Jadi Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maemoen mendukung jamu tradisional sebagai gaya hidup sehat (foto: Pemprov Jateng)
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maemoen mendukung jamu tradisional sebagai gaya hidup sehat (foto: Pemprov Jateng)

NARASIKOE.COM – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen menegaskan potensi besar jamu tradisional sebagai produk ekonomi kreatif yang layak didorong menjadi gaya hidup masyarakat.

Hal itu disampaikan saat jumpa pers Hasil Intensifikasi Nasional Pengawasan Obat Bahan Alami dan Suplemen Kesehatan dalam rangka Program Indonesia Sadar Jamu Aman (Idaman) di Gedung Gradhika Bakti Praja, Selasa 9 Juni 2026.

“Kalau kita melihat di Solo, di Sukoharjo, Semarang, masyarakat sudah menyajikan jamu di kafe-kafe. Itu menjadi tren anak muda sekaligus menghidupkan jamu tradisional,” ujar Gus Yasin.

Ia menilai pandemi Covid-19 telah meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap gaya hidup sehat, yang sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tetap waspada terhadap jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Pemprov Jateng mendukung langkah BPOM melakukan pendampingan UMKM produsen jamu agar produk tetap aman dan berkualitas.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, menyebut Jawa Tengah ditetapkan sebagai lokasi pilot project Program Idaman karena jamu sudah membudaya di provinsi ini.

“Jamu bisa menembus pasar nasional bahkan global. Nilai ekonominya di Indonesia mencapai Rp350 triliun per tahun, namun baru Rp2 triliun yang dikelola. Masih ada ruang besar yang harus digarap,” tegasnya.

BPOM mencatat sepanjang 2025–2026 masih ditemukan peredaran jamu mengandung BKO. Dari 11.654 produk yang diuji, 206 terbukti mengandung bahan kimia obat.

Patroli siber juga menemukan lebih dari 39.000 penjualan obat bahan alam ilegal.

Di Semarang, inspeksi menemukan 147 item jamu ilegal senilai Rp385 juta, sementara pemeriksaan rutin di Jateng menemukan 10.267 produk dengan nilai Rp500 juta.

Meski demikian, BPOM menegaskan komitmen melakukan pendampingan agar citra jamu tetap terawat sebagai warisan budaya sekaligus produk ekonomi kreatif yang aman.