NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya lewat jalanan yang sibuk.
Di Kota Semarang, cerita itu kerap hadir dalam bentuk yang paling sederhana sekaligus paling jujur, yaitu tumpukan sampah yang tak kunjung pergi.
Sampah seolah-olah menjadi penanda waktu. Ia datang setiap hari, bertambah dengan pelan, lalu menetap. Warga pun mengenalnya bukan hanya dari rupa, melainkan dari bau yang menyelinap tanpa permisi.
Bagi sebagian orang, bau itu menjengkelkan. Tapi bagi yang lain, bau itu sudah menjadi bagian dari kebiasaan, sesuatu yang dikeluhkan, tetapi juga diterima dengan pasrah.
Penanganan sampah di kota ini sering digambarkan dengan penuh niat baik. Ada program, ada fasilitas, ada pula istilah-istilah teknis yang terdengar begitu menjanjikan. Namun fakta di lapangan, sampah tetap setia menunggu.
Tempat pembuangan yang disebut telah ditutup, faktanya masih menyisakan jejak-jejak yang nyata. Sebab, penutupan itu hanya berlangsung rapi di atas kertas, sementara di atas tanah, sampah tetap menemukan ruangnya sendiri.
Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle —yang dirancang sebagai simpul harapan— telah lama berdiri di berbagai sudut kota. Sayangnya, tak semua simpul itu benar-benar terhubung. Sebagian aktif, sebagian lain terdiam seperti bangunan yang kehilangan perannya.
Infrastruktur ada, tetapi kehidupan di dalamnya berjalan begitu perlahan, seolah-olah menunggu tangan-tangan yang benar-benar ingin merawatnya.
Tak hanya satu dua kali kita mendengar bahwa sampah harus dikelola dari sumbernya. Sampah harus dipilah sejak dari rumah tangga.
Sebuah gagasan yang masuk akal dan berulang kali disampaikan. Namun pemilahan sampah di rumah tangga pun belum sepenuhnya menjadi kebiasaan.
Edukasi dan Kesadaran
Edukasi yang selalu disuarakan itu belum menjelma menjadi sebuah kesadaran. Bank sampah hadir sebagai wacana baik, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi ruang yang akrab bagi warga atau harapan yang menjanjkan sebuah keuntungan.
Akibatnya sampah organik yang seharusnya bisa kembali ke tanah sebagai kompos, kerap berakhir di tempat yang sama dengan plastik dan sisa-sisa lainnya yang harus diselesaikan dengan cara berbeda.
Di jalan-jalan, armada pengangkut sampah berupaya menjalankan tugasnya. Beberapa di antaranya sudah uzur, membawa muatan berlebih, meninggalkan sisa di sepanjang perjalanan.
Bau tak sedap pun mengikuti, seakan-akan mengingatkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya selesai. Sampah memang diangkut, tetapi penyelesaiannya tak sebanding dengan jumlahnya yang begitu cepat bertambah.
Dalam kenyataan, plastik masih menjadi sahabat setia kehidupan sehari-hari. Praktis dan murah sehingga sangat sulit dilepaskan dari kehidupan.
Upaya pembatasan sebenarnya sudah digaungkan, namun pelaksanaannya tak dibarengi dengan ketegasan yang konsisten sehingga aturan pun begitu begitu mudah menjadi sekadar imbauan.
Tanpa keberanian menegakkan sanksi, perubahan besar yang diharapkan pun hanya akan berjalan setengah langkah, tanggung, bahkan akhirnya hilang sama sekali.
Persoalan sampah, pada akhirnya, bukan sekadar urusan kebersihan. Persoalan sampah adalah cermin kesabaran sebuah kota. Dari caranya mengelola, terlihat seberapa jauh komitmen itu dibangun dan seberapa sungguh-sungguh janji itu dijaga.
Sebab, sampah tak pernah berbohong. Ia selalu jujur menunjukkan apa yang benar-benar sudah kita lakukan, bukan apa yang ingin kita katakan.
Semarang adalah kota dengan sejarah panjang dan semangat yang besar. Ia layak mendapatkan pengelolaan lingkungan yang lebih dari sekadar rutinitas. Bukan hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga mengolahnya dengan kesungguhan dan keberlanjutan.
Sampah memang akan selalu ada. Namun kesungguhan sebuah kota dalam memperlakukannya akan menentukan, apakah ia akan berhenti sebagai sebuah tumpukan yang meresahkan atau menjadi pelajaran dan teladan tentang bagaimana kita merawat ruang hidup bersama. (*)
Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).


















