NARASIKOE.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat distribusi bahan pokok antardaerah untuk menjaga harga pangan tetap stabil dan terjangkau.
Langkah ini dilakukan dengan mempertemukan ratusan produsen dan offtaker serta memperluas kerja sama antardaerah.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, menegaskan penguatan distribusi pangan menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Prinsip rakor ini agar terjadi kerja sama di antara para bupati, produsen, dan offtaker, sehingga ketersediaan serta keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat tetap terjaga. Output akhirnya adalah inflasi Jawa Tengah tetap terkendali,” ujarnya dalam Rakor TPID dan Temu Bisnis KAD di Gradhika Bhakti Praja, Rabu 10 Juni 202.
Kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng ini diikuti ratusan produsen dan offtaker komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang merah, jagung, telur, dan minyak goreng.
Kepala Perwakilan BI Jateng, M. Nur Nugroho, menekankan pentingnya efisiensi distribusi.
“Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi. Kita pertemukan produsen dengan offtaker agar tercipta kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan,” katanya.
Dalam forum tersebut tercatat 99 offtaker dan 111 produsen dari 34 kabupaten/kota terlibat. Komoditas paling diminati adalah beras (30 peminat), cabai (25), minyak goreng (24), bawang merah (13), jagung (4), dan telur (3). Dari sisi pasokan, cabai didukung 33 produsen, beras 28, jagung 25, bawang merah 20, telur ayam 4, serta minyak goreng 2 produsen.
Sejumlah daerah mencatat potensi kerja sama tinggi, seperti Klaten dan Kota Semarang dengan 11 potensi kebutuhan, serta Demak dan Grobogan dengan sembilan peluang pasokan.
Kesepakatan kerja sama juga ditandatangani, di antaranya antara BUMP PT Kalingga Makmur Sejahtera Jepara dan Gapoktan Karya Manunggal Rembang untuk komoditas beras, serta kerja sama antardaerah Banyumas Raya untuk cabai, beras, jagung, bawang merah, dan minyak goreng.
Melalui sinergi ini, Pemprov Jateng berharap stabilitas harga pangan tetap terjaga, pasokan lebih merata, dan inflasi daerah dapat terus dikendalikan.


















