Batang, NARASIKOE.COM- Ratusan Pelajar SMA Negeri 2 Batang menunjukkan bakat seninya dalam even tahunan Smanda Javanese Festival. Even tersebut sengaja digelar sekaligus sebagai ajang penilaian mata pelajaran bahasa Jawa, prakarya dan kewirausahaan serta seni tari yang dikemas dalam sendratari dan musik oleh 284 pelajar kelas XII di halaman, SMAN 2 Batang, Kabupaten Batang, Selasa (13/1/2026).
Kepala SMAN 2 Batang Yulianto Nurul Furqon memberi kesempatan anak didik untuk menampilkan bakat seninya agar turut melestarikan seni dan budaya Jawa dari para leluhurnya. Banyaknya budaya manca dan kemajuan teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan, menginisiasi pendidik, agar anak didik memiliki benteng kebudayaan yang kuat melalui seni budaya tradisi.
“Kita harus memberikan pemahaman kepada anak, budaya ini harus dilestarikan, karena lambat laun mulai ditinggalkan generasi z. Ibarat kata kacang tidak boleh lupa dengan kulitnya,” jelasnya.
Sejumlah pementasan mulai dari tari, drama dengan tema yang dibawakan tiap kelas, untuk menampilkan ragam budaya Jawa. Ada tari, Sendratasik, monolog, hingga ikon budaya yang mencerminkan kearifan lokal, agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh kehadiran teknologi kecerdasan buatan.
Sementara itu, Wakil Bupati Batang Suyono yang hadir untuk keduakalinya terpukau dengan penampilan dan keunikan kostum saat menunjukkan flashmob tari Nusantara. Ia mengapresiasi pagelaran seni ini menumbuhkan karakter anak yang cinta budaya lokal, serta peduli sesama.
Dalam kesempatan tersebut, Suyono juga menyisipkan pesan, agar anak memiliki kewaspadaan dengan kehadiran teknologi kecerdasan buatan.
“Sebetulnya tidak perlu takut, hanya waspada dan lewat pergelaran seni ini melatih kepekaan sosial anak, sehingga bisa menilai karakter dalam bermasyarakat,” tegasnya.
Usai memperagakan keunikan kostum bertema Kliwonan, salah satu siswi kelas X, Nadi Pertiwi membeberkan alasan memilih kostum tersebut dalam memeriahkan even Smanda Javanese Festival. Kostum yang dikenakan berbahan daur ulang dari plastik dan steroform bekas yang dirangkai menjadi ornamen miniatur candi dan makanan tradisional.
“Bangga sekali rasanya bisa jadi perwakilan kelas X dengan mengenakan kostum bertema Kliwonan, ada juga miniatur klepon sama getuk yang mencerminkan kearifan lokal. Karena kostumnya unik dan dibuat sangat detail hingga dua pekan lamanya, demi persembahan spesial,” ujar dia.


















