Semarang, NARASIKOE.COM- Meski belum ada temuan, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan tetap mewaspadai Virus Nipah.
Virus Nipah saat ini sedang ramai diperbincangka, peningkatan kewaspadaan virus yang ditularkan kelelawar buah atau Pteropus spp perlu dilakukan, setelah mencuat di India
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M. Abdul Hakam menyampaikan hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia. Kendati begitu, langkah antisipasi terus diperkuat mengingat tingkat kematian akibat virus tersebut tergolong tinggi.
“Alhamdulillah, dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan, sampai saat ini belum ada kasus. Di Kota Semarang juga belum ditemukan,” jelasnya.
Hakam menjelaskan Kementerian Kesehatan telah menggelar rapat koordinasi secara daring dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi masuknya Virus Nipah ke Indonesia, termasuk ke daerah kabupaten/kota.
Menurutnya, virus nipah merupakan dari famili Paramyxoviridae dengan reservoir alami berupa kelelawar buah. Virus ini dapat hidup pada kelelawar tanpa menimbulkan gejala.
Namun, penularan dapat terjadi ketika ada interaksi antara kelelawar dengan hewan lain, seperti babi atau ternak, sebelum akhirnya menular ke manusia.
Hakam menjelaskan bahwa sejak pertama kali teridentifikasi pada 1998 di India dan Malaysia, kasus virus nipah juga dilaporkan meningkat signifikan.
“Hal ini menjadi perhatian serius karena tingkat kematian pada manusia yang terinfeksi cukup tinggi, berkisar antara 50 hingga 75 persen,” katanya.
Gejala infeksi virus nipah sendiri bervariasi, mulai dari yang ringan seperti demam, nyeri otot, flu, mual, dan muntah hingga gejala berat berupa gangguan saraf.
Pada kondisi berat, virus dapat menyebabkan radang otak atau ensefalitis yang secara klinis ditandai dengan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran hingga koma.
“Jika sudah masuk ke gejala berat, kondisinya sangat berbahaya sehingga harus diwaspadai,” katanya.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk virus nipah. Penanganan medis bersifat suportif, yakni meredakan gejala seperti pemberian obat penurun demam, antikejang, dan terapi pendukung lainnya.
Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah utama.
Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain rajin mencuci tangan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menghindari konsumsi buah yang tidak utuh atau berpotensi terkontaminasi, serta menghindari kontak dengan hewan ternak di wilayah yang berisiko.
“Masyarakat juga diimbau menggunakan masker, terutama saat bepergian, karena virus dapat masuk melalui saluran pernapasan,” katanya.
Selain itu, seluruh fasilitas kesehatan di Ibu Kota Jawa Tengah telah mengikuti sosialisasi mengenai gejala dan tata laksana awal apabila ditemukan kasus yang dicurigai virus nipah, sesuai pedoman dari Kementerian Kesehatan.
“Dalam waktu dekat, saya juga akan berkeliling ke beberapa puskesmas dan bertemu lintas sektor untuk menyampaikan langsung kewaspadaan terhadap virus nipah ini,” tutupnya.


















