Opini

Menjaga Napas Pangan dari Jantung Nusantara

×

Menjaga Napas Pangan dari Jantung Nusantara

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – DI hamparan sawah yang membentang dari lereng Merapi hingga dataran Randublatung, dari pesisir utara yang bergelombang angin garam hingga lembah selatan yang sunyi, Jawa Tengah berdiri sebagai jantung yang memompa kehidupan pangan bagi negeri ini.

Di tanah ini, butir padi bukan sekadar hasil panen, melainkan doa yang tumbuh bersama keringat petani, harapan yang bersemi di setiap musim tanam, juga janji diam-diam bahwa dapur bangsa tidak akan kehilangan nyala.

Sepanjang 2025, bumi Jawa Tengah kembali membuktikan kesetiaannya. Lebih dari 11 juta ton gabah kering panen (GKP) lahir dari petak-petak sawah mirip kitab kehidupan yang terbuka. Jumlah yang setara dengan 9,3 juta ton ganah kering giling (GKG). Angka itu menempatkan Jawa Tengah di barisan terdepan produsen padi nasional.

Di balik keberhasilan itu, ada jutaan langkah kaki yang setiap pagi setia menyapa embun, ada tangan-tangan tua yang masih setia menunduk, memungut bulir demi bulir yang kelak menjadi nasi di meja makan keluarga Indonesia.

BACA JUGA  Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Baru Jawa Tengah

Ya, Jawa Tengah kini bukan hanya lumbung beras. Ladang jagungnya pun menghasilkan lebih dari 3,8 juta ton yang menjadikannya sebagai kontributor terbesar kedua di negeri ini.

Selain itu, di sudut-sudut lahan yang lebih sunyi, kedelai tumbuh dengan sederhana namun bermakna, mencapai 17 ribu ton yang turut menopang harapan kemandirian pangan.

Tiga komoditas itu, yakni padi, jagung, dan kedelai, semuanya berpadu menjadi harmoni panjang yang menguatkan Indonesia untuk tetap tegak di tengah tantangan dunia.

Tantangan Masa Depan

Akan tetapi, sejarah selalu datang dengan dua wajah: prestasi dan ujian. Di balik kegemilangan angka, bayang-bayang masa depan pun turut menyelinap di dalamnya. Lahan pertanian perlahan menyusut –tergeser beton– dipaksa mundur oleh arus pembangunan yang sering tak mengenal kompromi.

Sementara itu, minat anak muda terhadap usaha pertanian pun berangsur-angsur menipis. Sawah yang dulu menjadi ruang pewarisan ilmu pertanian untuk merancang kemakmuran, kini berisiko menjadi ruang yang sunyi dari penerus.

Di sisi lain, langit juga sering menampakkan wajah tak menentu, awan bergeser tanpa pola, hujan datang tak selalu tepat waktu. Perubahan iklim seperti mengetuk pintu, membawa pesan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada kerja keras, tetapi juga pada kebijakan yang berpijak pada upaya memikirkan keberlanjutan.

BACA JUGA  Upah Naik Hidup Tetap Seret

Karena itu, menjadi penyangga pangan nasional bukan sekadar soal berapa ton produksi yang dicatatkan dalam laporan. Ia adalah tanggung jawab moral, pilihan peradaban, sekaligus ikhtiar panjang menjaga martabat bangsa.

Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu berjalan seirama, membuka akses teknologi bagi petani, memperkuat irigasi, memperbaiki jalan produksi, menghidupkan kembali pusat-pusat pelatihan tani, dan membangun ruang bagi inovasi serta digitalisasi pertanian.

Satu hal yang tak kalah penting adalah menyalakan kembali api semangat generasi muda. Pertanian harus dipandang bukan sebagai masa lalu, melainkan masa depan. Bukan ruang keterpaksaan, melainkan ruang kreativitas.

Jika anak muda kembali turun ke sawah —tentu dengan ilmu, teknologi, dan idealisme— maka pertanian tidak hanya bertahan, melainkan tumbuh dalam bentuk yang lebih bermartabat dan kekinian.

BACA JUGA  Waspada Cuaca Ekstrem, Jangan Tunggu Bencana Melanda

Dalam kondisi ini, peran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun berada di titik yang paling strategis. Kebijakan tata ruang harus melindungi lahan pangan sebagai warisan lintas generasi. Kebijakan anggaran harus berpihak pada petani sebagai pahlawan ketahanan bangsa. Sebab, peningkatan produksi pangan pada akhirnya bukan hanya tentang stabilitas stok nasional, melainkan tentang harga diri petani, tentang wajah kesejahteraan desa, tentang rasa syukur atas tanah yang terus memberi tanpa henti.

Jawa Tengah telah menunjukkan diri sebagai penopang pangan negeri. Namun tugas sesungguhnya ada pada keberlanjutan: menjaga tanah tetap subur, menjaga petani tetap sejahtera, menjaga pangan tetap tersedia, dan menjaga harapan tetap tumbuh.

Jika semua itu dirawat maka dari jantung tanah Jawa ini akan terus mengalir kehidupan yang menguatkan Indonesia, hari ini, esok, dan masa depan. (*)

Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…