NARASIKOE.COM – BENCANA alam yang terjadi pada dasarnya tidak bisa lepas dari komitmen dalam menjaga keseimbangan alam dan manajemen alam itu sendiri. Oleh karena itu, sangat beralasan jika kebencanaan di semua negara terkait dengan hubungan kausalitas atau sebab-akibat tersebut. Makin baik dalam menjaga keseimbangan alam maka potensi kebencanaan juga makin rendah.
Jadi tidaklah dapat jika kemudian ada yang menyebut dan atau mencari kambing hitam di balik semua bencana alam yang terjadi. Artinya, keseimbangan alam dan atau manajemen alam pasti akan melakukan penyesuaian secara alamiah dan natural sehingga terbentuk keseimbangan yang sesuai dengan tata struktur yang semestinya.
Terkait dengan hal itu maka semua bentuk bencana yang terjadi tidaklah bisa kemudian diabaikan penyebabnya. Oleh karena itu, koreksi dan evaluasi atas semua bentuk bencana yang ada menjadi penting untuk dilakukan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa pada tahun 2024 saja akumulasi kebencanaan yang terjadi di republik ini cukup besar. Jumlah tersebut bisa diperinci sebagai berikut.
Bencana banjir (1.420 kasus), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (973 kasus), cuaca ekstrem (733 kasus), tanah longsor (207 kasus), kekeringan (89 kasus), gelombang pasang-abrasi (27 kasus), gempa bumi (15 kasus) dan erupsi gunung berapi (8 kasus).
Data kebencanaan tahun 2023 menunjukkan jumlah yang jauh lebih banyak. Perincian data bencana pada tahun 2023 juga bisa dipaparkan sebagai berikut.
Bencana banjir (1.255 kasus), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (2.051 kasus), cuaca ekstrem (1.255 kasus), tanah longsor (591 kasus), kekeringan (174 kasus), gelombang pasang-abrasi (33 kasus), gempa bumi (31 kasus), dan erupsi gunung berapi (4 kasus).
Fakta yang ada menegaskan bahwa pada tahun 2024 total bencana yang terjadi adalah 3.472 kasus. Hal ini tentu perlu dilakukan evaluasi dan koreksi sehingga pada tahun 2025 jumlah bencana bisa direduksi, demikian juga pada tahun 2026.
Selain itu, pasti semua pihak yang berkompeten, terutama pemerintah, tidak perlu mencari kambing hitam tetapi yang utama adalah bagaimana hal ini bisa direduksi atau diminimalkan.
Adapun argumen yang mendasari, dampak dari bencana tidaklah kecil, baik dari sisi korban jiwa maupun korban materialnya.
Dominasi Bencana Hidrometeorologi
Dari data tersebut, jika dikelompokkan maka didapati kenyataan bahwa ancaman kebencanaan didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Dari data tahun 2024 tersebut, total bencana hidrometeorologi basah (68,75%), bencana hidrometeorologi kering (30,59%), dan bencana geologi (0,66%).
Dampak sistemik dari semua bencana tersebut tentu tidak bisa terlepas dari korban jiwa dan non-jiwa lainnya. Pada tahun 2024 misalnya, jumlah korban meninggal 540 jiwa, yang mengalami sakit dan luka 11.531 orang, sedangkan yang harus mengungsi dan terdampak 8.136.271 orang.
Data ini secara spesifik bisa dijelaskan bahwa akumulasi dari korban yang menderita dan mengungsi terdiri atas korban banjir (77,44%), kekeringan (18,19%), gempa bumi (1,43%), erupsi gunung berapi (1,12%), cuaca ekstrim (10,01%), tanah longsor (0,73%), gelombang pasang-abrasi (0,05%), dan karhutla (0,01%).
Berdasarkan pemetaan dan pengelompokan data di atas maka pemerintah dan pihak terkait tentu sangat berkepentingan untuk melakukan penanganan pascabencana secara tepat sasaran. Selain itu, kualitas penangan semakin ke sini juga semakin baik.
Selain itu, dengan pemetaan tersebut, langkah antisipasi dan mitigasi juga makin baik lagi. Tidak hanya pada tahun 2025 yang segera berakhir tetapi juga antisipasi dan mitigasi pada tahun 2026 yang sebentar lagi hadir.
Pasti tidak ada kata terlambat untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan secara lebih baik lagi. Demikian juga evaluasi dan koordinasi yang hasilnya akan menjadi dasar dalam menentukan berbagai langkah antisipasi dan mitigasi kebencanaan ke depan.
Dengan dasar itu pula maka upaya untuk menjaga, mempertahankan, dan melestarikan keseimbangan alam pun akan makin baik. (*)
Dr Edy Purwo Saputro SE MSi adalah dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo.


















