Opini

Menguatkan Karakter Generasi Muda lewat Akar Budaya Lokal

×

Menguatkan Karakter Generasi Muda lewat Akar Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COMDERASNYA arus globalisasi dan revolusi digital telah membawa perubahan besar pada cara generasi muda memandang dunia. Informasi mengalir tanpa sekat, budaya asing masuk dengan mudah, dan nilai-nilai baru kerap diterima tanpa proses penyaringan.

Di satu sisi, hal ini membuka peluang kemajuan, namun di sisi lain menghadirkan ancaman lunturnya karakter dan jati diri bangsa.

Dalam situasi inilah, kearifan lokal —terutama seni dan budaya tradisional— menjadi jangkar penting dalam membentuk karakter generasi muda agar tetap berakar pada nilai-nilai luhur.

Kearifan lokal lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Ia bukan sekadar warisan budaya, melainkan pedoman moral yang teruji oleh waktu.

Seni tradisional seperti wayang, tari daerah, musik gamelan, tembang, seni rupa tradisi, hingga ritual adat, menyimpan pesan mendalam tentang kehidupan. Nilai kejujuran, kesabaran, kerja keras, kesederhanaan, rasa hormat, dan gotong royong tertanam kuat dalam setiap ekspresi budaya tersebut.

Wayang, misalnya, bukan hanya tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan. Lakon-lakon yang dipentaskan menggambarkan pergulatan batin manusia dalam memilih antara kebaikan dan keburukan.

BACA JUGA  Ketika Budaya Asing Lebih Dikenal daripada Budaya Sendiri

Tokoh Bima mengajarkan keteguhan prinsip, Arjuna mencerminkan ketekunan dan kehalusan budi, sedangkan Semar menjadi simbol kebijaksanaan rakyat kecil yang jujur dan rendah hati.

Melalui kisah-kisah ini, generasi muda diajak memahami bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada fisik atau kecerdasan, tetapi pada moral dan integritas seseorang.

Seni tari dan musik tradisional pun memiliki peran serupa. Proses latihan yang panjang menuntut disiplin, konsistensi, dan kesabaran. Seorang penari tradisi tidak bisa menguasai gerak dalam waktu singkat, demikian pula seorang penabuh gamelan harus belajar menahan ego agar harmoni selalu terjaga.

Dari proses ini, generasi muda diajak belajar tentang pengendalian diri, kerja sama, dan penghargaan terhadap peran orang lain: sebuah nilai yang sangat dibutuhkan di tengah budaya instan dan serbaindividualistik saat ini.

Lebih dari itu, budaya tradisional juga mengajarkan makna kebersamaan. Berbagai tradisi lokal tumbuh dari semangat kolektif, dari kerja bakti, upacara adat, hingga pentas seni desa. Di ruang-ruang ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari komunitas.

BACA JUGA  Pilkada Langsung atau lewat DPRD: Demokrasi yang Ditarik ke Belakang?

Mereka belajar bahwa hidup bukan soal menang sendiri, melainkan tentang tumbuh bersama. Nilai gotong royong ini menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter sosial yang empatik dan peduli.

Tantangan Besar

Namun, realitas hari ini menunjukkan tantangan besar. Seni dan budaya tradisional kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno, tidak keren, dan kalah pamor dibanding budaya populer global. Banyak generasi muda mengenal tokoh fiksi luar negeri, tetapi asing dengan pahlawan budaya sendiri.

Kondisi ini bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda, melainkan akibat minimnya ruang aktualisasi dan pendekatan yang kontekstual terhadap seni dan budaya lokal.

Kearifan lokal sering kali diposisikan sebatas pelengkap acara seremonial, bukan sebagai bagian hidup yang relevan dengan zaman. Padahal, budaya memiliki sifat adaptif. Dengan sentuhan kreativitas, seni tradisional dapat berdialog dengan teknologi dan media digital tanpa kehilangan ruhnya.

Konten budaya di media sosial, film, musik modern berbasis tradisi, hingga pertunjukan kolaboratif menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu hidup dan berkembang pada era digital.

BACA JUGA  Geliat Investasi di Jateng: Penggerak Lapangan Kerja dan Kesejahteraan Warga

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat krusial. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan budaya sebagai pengetahuan, tetapi harus menghadirkannya sebagai sebuah pengalaman. Ekstrakurikuler seni tradisional, pembelajaran berbasis proyek budaya, hingga keterlibatan seniman lokal dalam dunia pendidikan dapat menjadi sarana efektif menanamkan nilai karakter.

Keluarga dan lingkungan masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama dalam memberikan teladan dan ruang bagi generasi muda untuk mencintai budayanya sendiri.

Ya, membentuk karakter generasi muda memang tidak bisa dilakukan secara instan. Ia membutuhkan proses panjang, keteladanan, dan nilai yang mengakar kuat.

Kearifan lokal melalui seni dan budaya tradisional menyediakan fondasi tersebut. Dari sanalah generasi muda belajar tentang makna menjadi manusia seutuhnya—beretika, berempati, dan berkepribadian Indonesia. Menjaga budaya berarti menjaga karakter, dan menjaga karakter berarti menjaga masa depan bangsa. (*)

Tim Redaksi. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitas (AI).

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…