NARASIKOE.COM – DORONGAN Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi agar kabupaten/kota memperbanyak forum investasi patut dibaca sebagai sinyal perubahan strategi pembangunan ekonomi daerah. Di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, Jawa Tengah memilih jalur proaktif: menjemput investasi dengan cara yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis potensi lokal.
Selama ini, investasi kerap dipersepsikan sebatas angka —berapa triliun rupiah modal masuk dan berapa ribu tenaga kerja terserap. Padahal, investasi sejatinya adalah tentang membangun ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan.
Forum-forum investasi, seperti Solo Investment Forum 2025 yang berlangsung pada Jumat (12/12/25), menjadi medium penting untuk menggeser paradigma tersebut. Bukan sekadar pamer proyek, melainkan juga jadi ruang dialog antara daerah dan investor untuk merumuskan masa depan ekonomi bersama.
Jawa Tengah memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki semua daerah. Stabilitas wilayah relatif terjaga, hubungan industrial cenderung harmonis, dan karakter tenaga kerja dikenal adaptif serta loyal. Ditambah lagi, kebijakan insentif dan kemudahan perizinan yang semakin terintegrasi secara digital membuat iklim investasi semakin kompetitif.
Kualitas Gagasan
Namun, tantangan sesungguhnya bukan terletak pada seberapa banyak forum investasi digelar, melainkan pada kualitas gagasan yang ditawarkan. Daerah tidak cukup hanya membawa proposal proyek, tetapi juga harus mampu menghadirkan narasi pembangunan yang jelas: sektor apa yang ingin dikembangkan, nilai tambah apa yang diciptakan, dan dampak sosial apa yang dihasilkan.
Dalam konteks itu, Surakarta bisa menjadi contoh menarik. Kota ini tidak menjual kawasan industri besar atau sumber daya alam, melainkan kekuatan budaya, pariwisata, kuliner, dan industri kreatif. Dengan ratusan event setiap tahun yang mampu menggerakkan transaksi ekonomi hingga triliunan rupiah, Surakarta menunjukkan bahwa ekonomi berbasis kreativitas dan pengalaman (experience economy) memiliki daya tahan dan daya tarik tersendiri.
Lebih jauh, pengembangan medical dan wellness tourism yang mulai dirintis Surakarta juga menandai arah baru pembangunan perkotaan. Kota tidak lagi hanya menjadi tempat bekerja dan berproduksi, tetapi juga ruang untuk hidup sehat, belajar, dan bertumbuh secara manusiawi.
Di sinilah investasi sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci bagi investasi di bidang lain, sebagaimana ditegaskan Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto (Respati Ardi).
Bagi kabupaten/kota lain di Jawa Tengah, pesan ini sangat relevan. Sebab, setiap daerah memiliki “cerita” dan keunggulan masing-masing, entah itu agroindustri, pariwisata alam, ekonomi maritim, entah UMKM berbasis kearifan lokal, semuanya bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi setiap daerah.
Forum investasi memang dapat menjadi panggung untuk mengemas cerita tersebut secara meyakinkan, sehingga investor tidak hanya tertarik menanamkan modal, tetapi juga berkomitmen untuk tumbuh bersama daerah. Karena itu, menentukan dulu apa yang menjadi kekuatan khas daerah beserta arah dan konsep pengembangannya sebelum membuka forum investasi menjadi hal yang sama pentingnya dengan forum tersebut.
Pada akhirnya, forum investasi bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk menuju transformasi ekonomi yang lebih inklusif. Ketika investasi mampu menciptakan lapangan kerja layak, menguatkan UMKM, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka ekonomi baru yang diharapkan Gubernur Ahmad Luthfi pun bukan sekadar jargon, melainkan sebuah kenyataan.
Jawa Tengah kini berada di persimpangan penting. Dengan keberanian membuka diri, konsistensi kebijakan, dan kemampuan membaca potensi lokal, forum investasi bisa menjadi motor penggerak babak baru pembangunan daerah yang lebih berdaya saing, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Jika seruan itu kemudian ditindaklanjuti oleh semua daerah di Jawa Tengah maka pelan tapi pasti, Jawa Tengah pun segera melewatkan persimpangan itu dengan konsep ekonomi baru. (*)
Tim Redaksi


















