NARASIKOE.COM – MALAM tahun baru selalu menghadirkan gemerlap cahaya penuh warna yang singkat namun memukau. Kembang api menjulur ke langit tinggi, mekar sesaat, lalu perlahan meredup meninggalkan jejak asap tipis dan bau mesiu yang menggantung di udara.
Di balik sorak-sorai dan tepuk tangan, ada keheningan yang menunggu di ambang waktu. Sebuah ruang sunyi yang menggemakan sebuah pertanyaan pelan: apa yang perlu kita lakukan setelah semua cahaya di langit padam?
Ya, di titik ketika keramaian surut dan kota kembali teduh, dari sanalah awal tahun sesungguhnya dimulai. Pergantian angka hanyalah pintu masuk bagi sebuah perjalanan yang harus dimulai dari satu langkah kecil yang kita pilih setelah pesta usai.
Namun sebelum langkah pertama diayunkan, Hal pertama yang patut kita lakukan adalah menjaga bumi dari jejak perayaan. Jalan-jalan yang semalam menjadi panggung sukacita sering kali berubah menjadi hamparan sampah: serpihan kertas, cangkang petasan, botol plastik, dan puntung rokok yang berserakan.
Membersihkannya bukan sekadar pekerjaan kasatmata, melainkan wujud kesadaran bahwa kebahagiaan tidak boleh dibayar dengan luka untuk alam. Ketika tangan kita memungut sisa-sisa malam, sesungguhnya kita sedang belajar merawat rumah besar yang selama ini diam-diam menampung hidup kita.
Setelah bumi kembali dipeluk, tibalah saatnya menata ruang batin. Harapan yang kita ucapkan di bawah langit gemerlap tidak akan tumbuh jika hanya sebagai kata. Ia membutuhkan kesungguhan untuk mewujudkannya meski hanya sebuah langkah sederhana.
Duduklah sejenak pada pagi buta setelah usai melakukan pesta. Dengarkan hati yang mulai jernih. Tanyakan dalam diam, langkah kecil apa yang benar-benar bisa kita jalani?
Tidak perlu resolusi besar yang tinggi menjulang. Cukup sebuah kebiasaan kecil yang bisa dipastikan mampu merawatnya, dengan lebih disiplin pada waktu, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih lembut pada sesama, serta lebih sabar menapaki prosesnya.
Selain itu, kita juga perlu berdamai dengan masa lalu yang telah lewat bersama tahun yang baru saja berlalu. Setiap kegagalan, penyesalan, atau luka yang masih tertinggal bukan untuk dihapus, melainkan untuk dipahami sebagai sebuah realitas yang harus kita terima. Sebab, ia adalah cermin yang meneguhkan langkah kita saat ini, bukan beban yang menggelayuti dan menahan langkah kita ke depan.
Iya, menata hidup berarti memberi ruang bagi pengalaman lama agar berubah menjadi pelajaran yang tidak hanya meneguhkan tetapi juga menuntun kita melangkah lebih matang
Menumbuhkan Empati
Pada saat bersamaan, mari menumbuhkan empati terhadap sesama. Sebab, tidak semua orang bisa merayakan malam pergantian tahun dengan tawa. Ada yang harus berjaga di rumah sakit, ada yang menjaga keamanan, ada yang bekerja hingga larut malam, atau sekadar bertahan di tengah kesunyian.
Menyapa, berbagi, dan membuka hati menjadi cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa kita ingin tahun ini lebih hangat—bukan hanya bagi diri kita sendiri, melainkan juga bagi semua kehidupan di sekitar kita.
Tahun baru mengingatkan kita untuk merawat nyala spirit yang tumbuh dalam diam. Kembang api menyala terang namun cepat padam. Cahaya dalam diri —ketekunan, keberanian, kesetiaan pada proses— bersinar perlahan namun bertahan jauh lebih lama. Di sanalah masa depan dibangun: bukan dalam gemuruh sesaat, melainkan dalam langkah-langkah kecil yang terus kita jaga hari demi hari.
Karena itu, ketika langit kembali gelap dan hiruk pikuk mereda, jangan biarkan tahun baru berhenti sebagai pesta yang usai semalaman. Menata hidup setelah kembang api meredup berarti memilih berjalan lebih sadar, lebih peduli, dan lebih bermakna. Sebab, cahaya yang paling penting bukanlah yang meledak di udara, melainkan yang tumbuh tenang di dalam diri kita dan setia menerangi langkah demi langkah perjalanan kita hingga tahun yang baru lagi menjelang. (*)
Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).


















