NARASIKOE.COM – SEKTOR pariwisata menjadi salah satu potensi besar dari republik ini. Selain wisata alam, juga wisata kebudayaan dan kesenian. Oleh karena itu, mendulang sektor ini dari semua potensi yang ada menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan.
Sukses Indonesia saat menggelar sport tourism Jakarta E-Prix di Jakarta International E-Prix Circuit, Ancol, Jakarta Utara dan Moto GP di Mandalika beberapa waktu lalu juga menjadi aset pariwisata masa depan. Tidak hanya dari aspek kepariwisataannya, tetapi juga dari aspek manajemennya dan sejumlah kepentingan yang menyertainya.
Oleh karena itu, kesuksesan perhelatan Jakarta E-Prix pasti makin mendongkrak citra pariwisata Indonesia, terutama kesuksesan penyelenggaraan MotoGP Mandalika.
Belajar dari kesuksesan kedua perhelatan besar tersebut, maka ada beberapa nilai yang memberikan pengaruh positif terhadap Indonesia pada umumnya dan Mandalika- Jakarta pada khususnya. Meski keduanya sukses, faktanya ada perbedaan persepsi dalam memandang kedua hajatan tersebut yang menarik untuk dikaji.
Pertama, sukses Jakarta E-Prix jelas mengukir sejarah baru. Bukan hanya karena sukses dalam penyelenggaraan ajang ini untuk pertama kalinya, tapi juga esensinya untuk memacu brand image sehingga persepsi terhadap Indonesia pun makin terbuka di mata dunia.
Bagaimanapun pemberitaan global terkait Jakarta E-Prix tetap berdampak positif terhadap citra Indonesia, termasuk tentunya sukses mengantisipasi pandemi. Ini akan memicu sentimen positif bahkan bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap daya tarik investasi, baik investasi padat karya maupun investasi padat modal.
Antusiasme publik dan pembalap terhadap race MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix pun terlihat dari unggahan media sosial (medsos) para pembalap dan pemberitaan secara global.
Sejumlah akun medsos dari pembalap MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix sudah meng-update situasi kekinian sirkuit MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix. Hal ini pasti akan memacu gairah follower mereka untuk antusias melihat apa yang terjadi dengan sirkuit MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix beserta semua atributnya.
Setidaknya, apa yang dilakukan melalui berbagai akun medsos para pembalap tersebut akan mengangkat citra sekaligus menjadi ajang publikasi gratis bagi Indonesia pada umumnya dan pasti kepariwisataan di Mandalika dan Jakarta pada khususnya.
Kedua, tidak bisa dimungkiri, hajatan Jakarta E-Prix bukanlah pentas dangdut kampung yang bisa digelar secara gratis, melainkan event kelas dunia yang membutuhkan biaya sangat besar sehingga peran sponsor pun menjadi sangat penting.
Hal ini menjadi dilema tersendiri antara kepentingan memacu daya tarik pariwisata melalui sport tourism dan kepentingan pendanaan untuk mendukung sukses penyelenggaraannya.
Faktanya, gelaran MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix berbeda karena adanya dukungan sponsor. Pada MotoGP Mandalika dukungan BUMN cukup besar, sedangkan pada Jakarta E-Prix tidak ada dukungan BUMN sama sekali.
Sekedar catatan, BUMN yang menjadi sponsor MotoGP Mandalika adalah PT Pertamina (Persero), PT Telkom Indonesia (Tbk), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT PGN Tbk. Dengan banyaknya BUMN yang menjadi sponsor, kesuksesan hajatan pun bisa langsung dikalkulasikan.
Bisa dipahami, ketiadaan sponsor BUMN pada ajang Jakarta E-Prix mungkin karena pertimbangan jarak waktu kedua event besar itu yang terlalu dekat. Namun hal itu seharusnya bisa dikalkulasi sejak awal terkait kepentingan makro dan jangka panjang dari aspek kepariwisataan dan kebangkitan daya tarik kunjungan wisata ke Indonesia.
Selain itu, kalkulasi juga sekaligus mengukur kepastian di sektor global sehingga membuka kemungkinan masuknya investasi, baik yang padat karya maupun padat modal. Padahal, daya tarik investasi menjadi penting untuk mendukung pembangunan. Karena itu, hal lain yang mendasar dari kesuksesan penyelenggaraan MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix adalah komitmen terhadap realisasi investasi, baik PMA maupun PMDN.
Ketiga, munculnya sentimen positif. Sebab, membangun sentimen positif untuk meningkatkan persepsi publik tidaklah mudah. Banyak kekhawatiran bisa muncul. Namun sukses ajang MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix pasti memacu mindset positif tentang Indonesia pada umumnya dan sport tourism pada khususnya.
Sejumlah penonton menegaskan, meski bukan pencinta balap motor, mereka memberikan apresiasi positif terhadap kedua ajang tersebut dan hal ini menjadi stimulus yang baik untuk mendukung pencitraan dan mindset tentang rasa aman di Indonesia. Apalagi model sirkuit yang kemudian justru dikenal sebagai model “kuda lumping”, bukan “kuda jingkrak” seperti model logo salah satu merek mobil berkelas.
Bahkan, muncul asumsi publik bahwa sirkuit formula E di Jakarta atau JIEC-Jakarta International E-Prix Circuit, Ancol, Jakarta Utara memiliki attack mode yang memungkinkan terjadi overtake atau menyalip sehingga membuat balapan lebih kompetitif dan atraktif.
Semoga evaluasi dan review MotoGP Mandalika dan Jakarta E-Prix bisa memberikan wacana baru sehingga bisa menggelar ajang serupa yang lebih baik pada musim mendatang sekaligus memacu daya tarik wisata, khususnya sektor sport tourism. (*)
Dr Edy Purwo Saputro SE MSi, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo.


















