Opini

Karbon Biru dan Mageri Segoro, Ikhtiar Mitigasi Perubahan Iklim dari Pulau Jawa

×

Karbon Biru dan Mageri Segoro, Ikhtiar Mitigasi Perubahan Iklim dari Pulau Jawa

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – PERUBAHAN iklim kini kian terasa nyata, lebih-lebih di wilayah pesisir. Abrasi yang terus terjadi, naiknya permukaan air laut, hingga cuaca ekstrem perlahan menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang hidup berdampingan dengan laut.

Di tengah situasi itu, langkah menjaga ekosistem pesisir tak lagi sekadar pilihan, melainkan suatu keharusan. Kesadaran inilah yang tercermin dalam rencana program karbon biru yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan melibatkan 16 kabupaten/kota di pesisir utara dan selatan Pulau Jawa.

Program karbon biru menempatkan ekosistem pesisir —terutama mangrove— sebagai instrumen penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Mangrove memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, bahkan melebihi sebagian besar hutan daratan.

Dengan menjaga dan memulihkan mangrove, negara tidak hanya melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga berkontribusi langsung pada upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Sebuah rencana program yang patut mendapat dukungan semua pihak.

Kabupaten Kendal termasuk salah satu daerah yang dilibatkan dalam program tersebut. Hal ini tidak hanya menunjukkan pengakuan terhadap kondisi mangrove Kendal yang relatif masih terjaga, tetapi juga memberikan kesempatan bagi kabupaten penyangga ibu kota Provinsi Jateng itu untuk berkontribusi secara nyata dalam program baru tersebut.

Di sepanjang pesisir Kendal, mangrove masih tumbuh sebagai pelindung alami daratan, tempat berkembang biak biota laut sekaligus penyangga kehidupan masyarakat pesisir. Potensi ini menjadi modal penting agar Kendal tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga contoh praktik yang baik dalam pengelolaan ekosistem pesisir berbasis keberlanjutan.

Namun, keberhasilan program karbon biru tentu tidak dapat berdiri sendiri. Ia memerlukan kesinambungan kebijakan di tingkat daerah agar tujuan besar yang dicanangkan pemerintah pusat ini dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan.

Di sinilah program Mageri Segoro yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menemukan relevansinya. Mageri Segoro secara filosofis dimaknai sebagai upaya “memagari laut”, yakni memperkuat kawasan pesisir melalui penanaman mangrove dan vegetasi pantai secara berkelanjutan.

Program ini menempatkan mangrove bukan semata-mata sebagai tanaman, melainkan sebagai simbol perlindungan, ketahanan wilayah, dan warisan ekologis bagi generasi mendatang. Dalam praktiknya, Mageri Segoro mendorong keterlibatan berbagai elemen, dari pemerintah daerah, masyarakat pesisir, hingga sukarelawan lingkungan.

Saling Menguatkan

Ketika Mageri Segoro dijalankan seiring dengan program karbon biru, tampak sebuah kesinambungan kebijakan yang saling menguatkan. Program nasional memberikan kerangka besar, arah kebijakan, dan legitimasi ilmiah mengenai pentingnya ekosistem karbon biru. Sementara itu, program daerah menghadirkan pendekatan kultural dan sosial yang lebih membumi, menyentuh langsung masyarakat yang sehari-hari hidup di pesisir.

Bagi Kabupaten Kendal, pertemuan dua program ini membuka peluang besar. Mangrove yang sudah tumbuh baik dapat dipertahankan dan dikembangkan, sekaligus dijadikan bagian dari kontribusi nyata daerah dalam agenda nasional pengendalian perubahan iklim.

Lebih jauh, keberlanjutan program ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, baik melalui perlindungan sumber daya perikanan maupun pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.

Yang jelas, baik program karbon biru maupun Mageri Segoro, keduanya mengajarkan satu hal penting bahwa menjaga pesisir dengan melestarikan dan merawat tanaman mangrove berarti menjaga masa depan. Sebab, laut tidak hanya soal rung ketahanan ekonomi, tetapi juga ruang bagi kehidupan yang menentukan daya tahan wilayah terhadap krisis iklim.

Dan dari pesisir Jawa, dari hutan mangrove Kendal, dan dari kebijakan yang saling bersinergi antara pusat dan daerah, harapan itu perlahan-lahan kita tanam dengan tenang, setenang akar bakau yang bekerja dalam diam, namun kokoh dalam menjaga dan melindungi bumi. (*)

Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).