Opini

Kalau Soal Ini, Sepak Bola Inggris Memang Jagonya

×

Kalau Soal Ini, Sepak Bola Inggris Memang Jagonya

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – LIGA Sepak Bola Inggris dikenal dengan kegilaannya. Frasa ’’sepak bola lebih dari agama’’ (football is more than a religion) jadi fakta yang tak terbantahkan.
Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan betapa kuatnya gairah, loyalitas, dan identitas kolektif yang diberikan sepak bola, sering kali menyerupai pengalaman keagamaan dalam ritual, harapan, dan komunitas. Meski sepak bola secara harfiah bukan agama dan tak memiliki unsur supranatural.

Ini mencerminkan bagaimana sepak bola mengisi kebutuhan sosial-psikologis, memberikan pelarian, dan menyatukan orang dari berbagai latar belakang melalui “keimanan” terhadap tim kesayangan. Mirip dengan cara agama memberikan makna dan tujuan.

Sepak bola Inggris juga menawarkan hiburan yang boleh dibilang tanpa henti. Bahkan, setelah Natal pun kompetisi tetap bergulir dan dikenal dengan nama Boxing Day.
Menjelang tahun baru, sepak bola Inggris tak mengubah pola. Jadwal pertandingan terus berlanjut.

BACA JUGA  Mewaspadai Potensi Bencana selama Musim Hujan

Bagi masyarakat Inggris, sepak bola sudah seperti candu. Ia merupakan hiburan yang bisa menenangkan.

Kasta liga Inggris terdiri atas Premier League (tertinggi diikuti oleh tiga divisi di bawahnya dan dikelola English Football League (EFL): Championship (tingkat kedua), League One (tingkat ketiga), dan League Two (tingkat keempat).

Di bawah League Two, ada liga-liga tingkat semi-profesional dan amatir yang lebih rendah, seperti National League, National League North/South, dan berbagai liga regional lain yang membentuk piramida sepak bola Inggris yang lebih luas.

Dari semua kasta itu, Premier League jelas yang paling bergengsi. Kompetisi ini diikuti 20 klub terbaik. Musim ini Liga Primer Inggris menawarkan persaingan yang keras dan ketat. Juara bertahan, Liverpool, yang awalnya menjanjikan tiba-tiba terseok-seok.

BACA JUGA  MBG di Persimpangan Amanat dan Kelalaian

Ketika The Reds kehilangan konsistensi, Arsenal merangsek ke depan diikuti Manchester City dan Aston Villa. Hingga usai Natal, Arsenal masih memimpin klasemen.
Biasanya, tim yang berada di puncak saat Natal akan tampil sebagai juara. Namun, dalam tiga Natal terdahulu, Arsenal selalu memimpin dan ironisnya selalu gagal juara.

Untuk survive dan sukses di Premier League dibutuhkan modal yang komplet. Deretan pemain top dan berkualitas pun tak bisa dijadikan jaminan.

Selain materi pemain oke, juga diperlukan kekompakan, kerja keras, dan ini yang juga menentukan: ketahanan fisik. Tanpa fisik yang prima, jangan harap bisa menuntaskan kompetisi di posisi teratas.

BACA JUGA  Harmoni Rapuh di Panggung Kekuasaan

Peserta Premier League setiap musim punya tiga kompetisi domestik, yakni Premiership, Piala FA, dan Piala Liga. Jumlah pertandingan mereka akan bertambah jika mendapat tiket ke kompetisi Eropa, entah itu Liga Champions, Liga Europa, entah Liga Konferensi Eropa.

Tim-tim papan atas Premier League tiap musim sudah terbiasa main tiap dua hari sekali. Bayangkan betapa menderitanya mereka jika manajer klub tak menerapkan rotasi pemain.

Premier League memang jauh lebih berat dibandingkan empat liga Eropa lain, yakni LaLiga (Spanyol), Bundesliga (Jerman), Serie A (Italia), dan Ligue 1 (Prancis). Tak heran kalau pemain-pemain jebolan LaLiga, Bundesliga, Serie A, dan Ligue 1 pun kesulitan saat merumput di tanah Inggris. (*)

EMA, editor Narasikoe.com.

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…