Opini

Harmoni Rapuh di Panggung Kekuasaan

×

Harmoni Rapuh di Panggung Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – PADA awal kekuasaan, kepala daerah dan wakilnya tampil sebagai dua sosok yang seolah diciptakan untuk berjalan beriringan. Mereka hadir bersama di podium, bersuara dalam satu nada, dan menebarkan keyakinan bahwa pemerintahan akan dijalankan dalam semangat kebersamaan. Di mata publik, keduanya tampak seperti harmoni yang utuh—dua nada yang membangun satu melodi kekuasaan.

Namun siapa sangka, harmoni itu ternyata hanya terlihat indah pada awal, semakin lama semakin menampakkan kerapuhan hingga nada kekuasaan yang semula saling melengkapi pun terlihat mencari arah sendiri-sendiri.

Memasuki tahun-tahun berikutnya, nada yang semula seirama mulai retak perlahan. Langkah yang dulu sejajar berubah menjadi jarak yang tak terucapkan. Undangan rapat tak selalu datang berpasangan, keputusan strategis tak lagi melibatkan dua suara, dan nama sang wakil kian jarang muncul dalam kisah keberhasilan. Ia masih berada di panggung, tetapi perannya dipelankan —seperti instrumen yang suaranya sengaja dibuat samar.

Ini bukan cerita tunggal, melainkan kisah berulang di banyak panggung kekuasaan daerah. Pada tahun-tahun awal, kebersamaan menjadi kebutuhan. Kepala daerah memerlukan wakilnya sebagai penopang legitimasi, penyeimbang birokrasi, dan simbol kesatuan politik. Saat itulah keduanya tampak seperti dua pilar yang menyangga satu rumah bernama pemerintahan.

BACA JUGA  Otonomi Daerah dan Daya Tarik Investasi

Namun ketika fondasi dianggap cukup kuat, kekhawatiran justru tumbuh dari dalam. Popularitas menjadi semacam cermin yang tak ingin dibagi pantulannya. Muncul rasa waswas: jika wakil diberi ruang lebih luas, apakah sorotan publik akan bergeser? Apakah harmoni masih diperlukan, jika salah satu merasa cukup memainkan melodi sendirian?

Dari kegamangan itulah harmoni mulai retak. Peran wakil dipersempit, bukan lewat keputusan tertulis, melainkan melalui kebiasaan yang pelan-pelan dibangun. Agenda penting disederhanakan menjadi urusan satu orang, sementara wakil hanya diminta hadir saat pengganti diperlukan. Kekuasaan berubah menjadi solo pertunjukan dan harmoni pun mulai kehilangan ruang bernapasnya.

Diam Tidak Pasif

Namun di sisi lain, keheningan tak selalu berarti menerima. Di balik sikap yang tampak tenang, sang wakil menyimpan kegelisahan. Ia sadar, politik bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang kemungkinan esok hari. Ketika ruangnya menyempit, ia memilih diam, tapi tidak pasif. Ia membaca peta, menata langkah, dan perlahan mempersiapkan jalannya sendiri.

BACA JUGA  Ketika Budaya Asing Lebih Dikenal daripada Budaya Sendiri

Di titik inilah harmoni tak lagi utuh. Bukan karena pertengkaran, melainkan karena kepercayaan yang menyusut. Kepala daerah menjaga jarak demi mempertahankan dominasi, sementara wakil menjaga diam demi menjaga peluang. Birokrasi pun berada di tengah ruang sunyi, tak tahu harus condong pada nada yang mana.

Yang paling dirugikan dari harmoni yang rapuh ini tentu bukan mereka yang berada di puncak, melainkan publik yang menaruh harapan. Energi yang seharusnya dipakai untuk melayani justru habis untuk merawat kecurigaan. Program kehilangan langkah bersama, kebijakan kehilangan kedalaman pandang, dan pemerintahan berjalan tanpa duet yang semula dijanjikan.

BACA JUGA  Tanpa Pesta Kembang Api, Malam Tahun Baru Saatnya Menundukkan Hati

Padahal keduanya lahir dari satu mandat, satu pilihan rakyat, satu kepercayaan yang diberikan bersama. Jika harmoni dijaga bukan sebagai simbol pencitraan, tetapi sebagai kesadaran berbagi peran, barangkah kisah retak ini tak perlu terus berulang.

Pada akhirnya publik diingatkan bahwa kekuasaan selalu menyimpan paradoksnya sendiri. Harmoni tidak pernah berdiri di atas ambisi yang saling bersaing, melainkan pada kerendahan hati untuk menerima bahwa cahaya bisa dibagi tanpa harus redup.

Selama kekuasaan masih dipahami sebagai panggung untuk saling menonjol, harmoni akan tetap menjadi melodi yang mudah pecah —indah di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Hanya ketika para pemegang amanah berani menempatkan kepentingan publik di atas ego politik, barulah harmoni menemukan makna sejatinya: bukan sekadar keserentakan nada, melainkan juga kebijaksanaan untuk berjalan bersama sampai akhir irama. (*)

Kamalul Yakin, reporter dan editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…