NARASIKOE.COM — DALAM beberapa tahun terakhir, geliat investasi di Jawa Tengah makin terasa nyata. Beragam kawasan industri tumbuh pesat, peluang kerja terbuka lebar, dan aktivitas ekonomi daerah kian dinamis.
Pergerakan investasi ini tak hanya terlihat dari masuknya investor baru, tetapi juga dari dampak langsung yang dirasakan masyarakat, terutama menurunnya angka pengangguran dan meningkatnya kesejahteraan warga.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong iklim investasi yang ramah bagi pelaku usaha, mulai dari penyederhanaan perizinan hingga menyiapkan kawasan industri lengkap dengan infrastruktur pendukung.
Sejumlah daerah seperti Kendal, Batang, Demak, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang menjadi magnet bagi perusahaan manufaktur, elektronik, tekstil, hingga industri berbasis teknologi.
Masuknya investasi ini memunculkan efek berantai yang besar. Salah satunya, peluang kerja baru yang luas. Ribuan tenaga kerja diserap dari berbagai tingkatan, mulai dari lulusan SMA/SMK hingga sarjana.
Perusahaan-perusahaan besar yang masuk tak hanya memberi lapangan kerja, tetapi juga memicu pertumbuhan UMKM lokal yang menjadi mitra atau pendukung operasional para pelaku industri besar di setiap kawasan.
Ini semua tentu tak lepas dari instruksi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi yang selalu meminta setiap kepala daerah menjadi “sales” bagi para pemilik modal besar untuk menanamkan modalnya di daerah masing-masing.
Untuk keperluan itu bahkan Gubernur siap memberikan berbagai jaminan, seperti kemudahan dalam hal perizinan, juga jaminan keamanan. Soal keamanan, Gubernur bahkan menjamin tidak akan ada premanisme di setiap kawasan industri yang ada di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Di sisi lain, didukung Pemerintah Provinsi Jateng, setiap pemerintah kabupaten/kota, lebih-lebih yang memiliki kawasan industri, juga menyiapkan pelatihan vokasi dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan sumber daya manusia (SDM) lokal mampu bersaing dan langsung terserap begitu ada investasi baru masuk. Skema pelatihan ini diharapkan turut menekan angka pengangguran terbuka yang selama ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap daerah.
Tak berhenti pada penyerapan tenaga kerja, meningkatnya aktivitas industri juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Pertumbuhan bengkel, rumah makan, warung harian, rumah indekos, hingga jasa transportasi di sekitar kawasan industri menjadi bukti bahwa geliat investasi turut memperkuat kesejahteraan warga. Pendapatan masyarakat yang meningkat telah menciptakan daya beli yang lebih baik dan pada akhirnya memperkuat ekonomi daerah secara keseluruhan.
Tumbuh Progresif
Terkait dengan keberhasilan Jawa Tengah dalam menumbuhkan investasi, pemerintah pusat memberikan penilaian tersendiri. Pemerintah pusat menilai Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan iklim usaha yang progresif. Faktor stabilitas keamanan, akses transportasi yang makin lengkap, dan ketersediaan lahan menjadi modal besar yang telah terbukti efektif menarik investasi dan akan berkelanjutan pada masa mendatang.
Meski demikian, penataan tata ruang, penyediaan hunian pekerja, dan penguatan transportasi publik menjadi tantangan yang perlu untuk terus dibenahi. Pemerintah daerah juga harus didorong untuk memastikan pertumbuhan investasi tetap sejalan dengan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi kunci agar kemajuan industri tidak mengorbankan lingkungan ataupun ruang hidup warga.
Geliat investasi yang terus tumbuh menjadi harapan baru bagi Jawa Tengah. Bukan hanya angka di atas kertas, melainkan juga benar-benar dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari: semakin banyak pekerja terserap, pendapatan semakin bertambah, dan ekonomi daerah bergerak semakin aktif.
Jika konsistensi pembangunan dan pengelolaan investasi dapat terus dijaga, Jateng berpotensi menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional yang kuat dan inklusif—sebagaimana harapan masyarakat yang menginginkan kesejahteraan makin merata di seluruh penjuru provinsi. (*)
Tim Redaksi.


















