NARASIKOE.COM – SAAT ini, ada satu sudut rumah yang makin jarang kita jumpai, bahkan nyaris punah di banyak tempat, yaitu dapur kayu. Ia memang bukan ruang yang cantik, bukan pula simbol kemajuan.
Bahkan dindingnya kebanyakan menghitam oleh jelaga, lantainya berdebu oleh abu dapur, dan asap tipis sering menggantung di udara.
Namun justru dari ruang sederhana itulah, setiap penghuni rumah dulu menemukan kehangatan. Mereka berkumpul, bercengkerama sambil memasak.
Ya, dapur kayu bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang hidup. Tempat pagi dimulai dan malam ditutup. Tempat air dipanaskan, nasi ditanak, sayur dimasak, sekaligus tempat cerita mengalir tanpa antara orang tua dan anak.
Di sanalah dulu seorang ibu duduk di dingklik kecil, tangan sibuk mengipasi api di tungku panjang, sementara anggota keluarga lainnya berlalu-lalang, singgah sebentar untuk ikut menghangatkan badan, lalu asyik berbincang sambil mencicipi camilan.
Di dapur kayu, segalanya berjalan pelan. Api tidak bisa dipaksa menyala seketika. Kayu harus dipilih, disusun, lalu dinyalakan dengan sabar. Jika terburu-buru, api justru mati. Jika terlalu kuat, masakan bisa hangus. Maka yang dibutuhkan bukan kecepatan, melainkan ketenangan, ketelatenan, dan kesabaran.
Dari situ, tanpa sadar, kesabaran pun dipelajari setiap hari oleh setiap anggota keluarga. Selain itu, mereka juga menjaga hubungan dan kedekatan satu sama lain.
Waktu kemudian bergerak. Kompor minyak tanah hadir membawa perubahan. Dapur mulai lebih bersih, proses memasak lebih singkat. Namun masih ada unsur menunggu, masih ada api yang harus dijaga.
Hingga akhirnya kompor gas mengambil alih hampir semua dapur. Sekali putar, api menyala. Sekali tekan, masakan matang. Cepat, praktis, dan efisien.
Bahkan kini pemerintah tengah gencar-gencarnya menyosialisasikan pemasangan jaringan gas ke setiap rumah. Setiap keluarga yang saat ini masih memanfaatkan tabung gas, kelak mereka tak membutuhkan tabung lagi. Semua akan digantikan jaringan gas. Jauh kebih praktis, dan konon katanya lebih aman daripada menggunakan tabung.
Berubah Makna
Bersamaan dengan itu semua, dapur pun berubah makna. Ia tak lagi menjadi ruang berlama-lama. Tak lagi menjadi tempat duduk dan berbincang. Dapur berubah menjadi ruang singgah, bukan ruang tinggal. Masuk, masak, selesai. Tak ada lagi waktu menunggu, tak ada lagi jeda untuk berbagi cerita.
Kini, dapur kayu hanya tersisa satu dua. Biasanya di kampung terpencil, di rumah-rumah yang jauh dari jalan raya dan jangkauan pemasaran gas dalam tabung. Di sana, tungku masih menyala setiap hari. Kayu bakar masih disusun rapi. Abu masih disapu tiap pagi. Asap pun masih menjadi bagian dari keseharian yang turut memberikan aroma khas kehidupan.
Menariknya, di tempat-tempat itulah waktu terasa lebih ramah. Orang tak mudah gelisah karena menunggu. Tak ada keluhan karena proses yang lambat. Sebab, sejak awal dapur kayu telah mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu instan.
Kerinduan pada dapur kayu sejatinya bukan rindu pada kesederhanaan yang keras. Bukan pula keinginan untuk kembali hidup susah. Kerinduan pada dapur kayu adalah kerinduan terhadap ritme hidup yang tidak tergesa-gesa. Kerinduan pada masa ketika menunggu bukan dianggap membuang waktu, melainkan bagian dari kehidupan.
Dari dapur kayu, kita belajar bahwa kesabaran bukan konsep abstrak. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Menunggu air mendidih. Menanti nasi tanak. Menjaga api agar tetap hidup. Semua itu melatih kita untuk menerima proses, menghargai waktu, dan memahami bahwa hasil yang baik jarang lahir dari ketergesaan.
Tentu, kita tak sedang menolak kemajuan. Kompor gas adalah jawaban atas kebutuhan zaman. Ia membantu banyak hal menjadi lebih ringan. Namun di tengah dunia yang serbacepat hari ini, dapur kayu seperti meninggalkan pesan yang sunyi namun dalam: tidak semua hal harus dikejar, tidak semua proses perlu dipercepat.
Mungkin dapur kayu memang telah hilang dari banyak rumah. Namun nilai yang pernah tumbuh di sekitarnya seharusnya tetap kita jaga. Sebab, dari tungku sederhana itu, kita pernah belajar bahwa hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling sabar menjalani setiap langkah dari sebuah perjalanan.
Dan barangkali, itulah kehangatan yang kini paling kita rindukan, yaitu kehangatan yang tak berasal dari api semata, tetapi dari kesabaran yang perlahan memudar bersama hilangnya dapur kayu. (*)
Tim Redaksi


















