Opini

Pariwisata Kota Semarang: Antara Ledakan Jumlah Kunjungan dan Ujian Kualitas

×

Pariwisata Kota Semarang: Antara Ledakan Jumlah Kunjungan dan Ujian Kualitas

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – LONJAKAN jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Semarang sepanjang tahun 2025 patut dicatat sebagai kabar baik. Angka 7,6 juta wisatawan hingga November 2025 lalu yang hampir menyentuh target tahunan 7,9 juta menunjukkan bahwa sektor pariwisata ibu kota Jawa Tengah ini sedang berada di jalur yang menjanjikan.

Karena itu, optimisme Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bukanlah tanpa dasar. Data menunjukkan geliat pariwisata kian terasa, terutama menjelang momentum libur Natal dan Tahun Baru.

Namun, di balik euforia capaian angka, ada pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan, yaitu menjaga kualitas kepariwisataan agar seiring sejalan dengan kuantitas kunjungan yang kian menjanjikan.

Sebab, pariwisata bukan sekadar soal menghitung berapa banyak orang yang datang, melainkan juga bagaimana kota ini mampu memberikan pengalaman yang berkesan, aman, dan berkelanjutan.

Tak bisa dimungkiri, Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir memang berhasil memoles wajah pariwisatanya. Kota Lama yang makin tertata, Lawang Sewu yang kian hidup, dan Sam Poo Kong yang masih tetap menjadi magnet budaya, hingga destinasi keluarga seperti Semarang Zoo dan Pantai Marina menjadi bukti bahwa kota ini punya portofolio wisata yang beragam.

BACA JUGA  UCL dan Ujian Konsistensi Elite Eropa

Optimisme melampaui target jumlah wisatawan tahun 2025 adalah sinyal positif kebangkitan ekonomi lokal. Perputaran uang dari sektor pariwisata memberi efek domino bagi pelaku UMKM, perhotelan, transportasi, hingga ekonomi kreatif.

Target pertumbuhan sektor pariwisata sebesar 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya juga mencerminkan keberanian Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dalam membaca peluang.

Namun, tantangan muncul ketika lonjakan kunjungan berpotensi menimbulkan masalah klasik, yaitu kemacetan, kepadatan destinasi, persoalan kebersihan, hingga risiko keselamatan akibat cuaca ekstrem.

Langkah Pemkot Semarang melibatkan seluruh stakeholder pariwisata menjelang libur panjang Nataru patut diapresiasi. Koordinasi lintas sektor, mitigasi bencana, dan kesiapan infrastruktur menjadi kunci agar pariwisata tidak berubah menjadi sumber keluhan publik.

Event Seni dan Budaya

BACA JUGA  Tata Ruang Versus Tata Uang

Dorongan penyelenggaraan event seni dan budaya di berbagai destinasi menunjukkan pendekatan yang tepat. Pariwisata tidak boleh stagnan karena wisatawan membutuhkan pengalaman, bukan sekadar menikmati keindahan lokasi.

Karena itu, event seni dan budaya bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media untuk memperkuat identitas kota sekaligus memperpanjang masa tinggal wisatawan di Kota Lumpia ini.

Menariknya, Pemkot Semarang memilih tidak menetapkan target khusus wisatawan selama Nataru. Sikap ini patut dibaca sebagai upaya menggeser orientasi dari “kejar angka” ke “kejar kualitas”.

Selain itu, fokus pada upaya menjaga ketertiban, kenyamanan, dan dampak positif bagi kota juga merupakan pendekatan yang lebih dewasa dalam tata kelola kepariwisataan.

Meski demikian, konsistensi tetap menjadi ujian utama. Untuk itu, pemantauan langsung di destinasi padat pengunjung harus juga diikuti dengan evaluasi pascalibur.

Sinkronisasi data wisatawan di tingkat provinsi bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan stakeholder lain juga menjadi langkah penting agar perencanaan pariwisata ke depan berbasis data yang valid, bukan sekadar klaim angka.

BACA JUGA  Tanpa Pesta Kembang Api, Malam Tahun Baru Saatnya Menundukkan Hati

Ya, ledakan jumlah kunjungan wisatawan adalah peluang sekaligus peringatan. Hal itu membuat Kota Semarang berada di tengah persimpangan, apakah akan tumbuh sebagai kota wisata yang nyaman dan berkelas atau terjebak dalam euforia mass tourism tanpa kendali?

Tahun 2025 bisa menjadi titik balik asalkan kebijakan pariwisata tidak hanya berhenti pada optimisme, tetapi juga diiringi dengan keberanian menjaga kualitas, keberlanjutan, dan kepentingan warga kota. Sebab, pengelolaan pariwisata yang baik bukan hanya membuat wisatawan ingin datang dan datang lagi, melainkan juga membuat warga lokal bangga dan nyaman tinggal di kota sendiri.

Ya, Kota Semarang sudah memiliki modal besar untuk itu, tinggal bagaimana menjaga arahnya agar pertumbuhan kepariwisataan tidak kehilangan makna. (*)

Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…