NARASIKOE.COM – MALAM pergantian tahun sering kita maknai sebagai pesta cahaya —langit yang retak oleh kembang api, udara yang bergetar oleh dentum petasan, dan jalan-jalan yang penuh sorak-sorai.
Namun, di sudut-sudut Tanah Air, terutama di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera, ada rumah-rumah yang sunyi tanpa lampu, ada langkah yang tertatih di antara sisa lumpur dan puing reruntuhan.
Ya, di sanalah saudara-saudara kita tengah menyusun kembali hidupnya yang porak-poranda. Dalam keheningan luka mereka, riuh pesta terasa seperti gema yang tak pada tempatnya.
Karena itu, imbauan untuk merayakan tahun baru tanpa hura-hura sejatinya bukan larangan yang mematikan sukacita. Ia adalah seruan lembut untuk menundukkan hati, untuk menahan diri dari euforia yang berlebihan, dan menggantinya dengan ruang perenungan yang lebih dalam.
Tahun baru bukan sekadar perubahan angka di kalender, melainkan pintu sunyi tempat kita bercermin merefleksikan perjalanan diri: pada kesalahan yang pernah kita biarkan, pada harapan yang nyaris padam, dan pada kasih sayang yang mungkin belum sepenuhnya kita hidupkan.
Kembang api memang memecah langit dengan warna-warna yang memukau, namun keindahannya hanya berlangsung sekejap, sesudah itu lenyap di udara, bahkan menyisakan asap dan bunyi yang memukul telinga.
Sebaliknya, kepedulian kepada sesama mampu bertahan jauh melampaui dentuman malam pergantian tahun. Kepedulian mampu menelusup masuk ke relung hati sesama penghuni negeri yang kini tengah berjibaku keluar dari situasi yang sungguh menyayat hati.
Ya, di tengah duka saudara kita, kesederhanaan sebuah perayaan menjadi bahasa solidaritas. Tidak berlebih-lebihan dalam merayakan malam pergantian tahun adalah cara kita berkata: “Kami turut merasakan deritamu wahai saudaraku, meski dari kejauhan.”
Menyalakan Harapan
Kita bisa membayangkan, seandainya biaya untuk pesta kembang api dan petasan kita ubah menjadi setetes bantuan —sekarung beras, selembar selimut hangat, sepaket obat-obatan, atau sekadar secarik doa yang diwujudkan dalam uluran tangan— betapa berbeda maknanya. Daripada membakar uang di langit, kita bisa memilih menyalakan harapan di hati mereka yang kini bergulat dengan kehilangan dan kehancuran. Di situlah kemanusiaan menemukan wujudnya: sederhana, senyap, namun menguatkan.
Keheningan sama sekali bukan musuh dari kebahagiaan. Dalam hening, kita belajar mendengar suara yang paling jujur, yaitu suara nurani. Di antara doa yang terucap pelan, kita memahami bahwa hidup selalu menyimpan ketidakpastian.
Hari ini kita mungkin masih bisa tertawa, esok hari belum tentu. Maka, kesederhanaan pada malam perayaan tahun baru bukanlah tanda kita menolak kebahagiaan, melainkan tanda bahwa kita memilih kebijaksanaan: tasyakuran tanpa harus menggelar pesta berlebihan, bergembira tanpa harus menimbulkan luka untuk saudara kita.
Di tengah refleksi itu, mari kita tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita menghadirkan kebaikan kepada sesama? Sudahkah kita menyingkirkan kesombongan, membuka ruang maaf, dan memperkuat jalinan persaudaraan?
Tahun baru memberi kita kesempatan untuk menata ulang hati, bukan hanya daftar rencana, melainkan juga cara kita memandang hidup dan kehidupan, diri sendiri dan saudara kita (manusia lain).
Kebesaran sebuah bangsa bukan diukur dari gegap gempita pestanya, melainkan dari kedalaman empatinya kepada sesama. Saat sebagian dari kita masih menata serpihan harapan, kesediaan untuk merayakan kebahagiaan secara sederhana adalah bentuk penghormatan paling tulus yang bisa kita berikan.
Biarlah malam pergantian tahun tidak diterangi ledakan cahaya, gemerlap warna-warni kembang api, melainkan disinari niat baik yang tumbuh diam-diam di dalam dada yang menjelma kepedulian terhadap nasib saudara kita, khususnya di Aceh dan Sumatera.
Dengan cara itu, mari kita memasuki tahun yang baru bukan sebagai kerumunan yang larut dalam sebuah euforia, melainkan sebagai manusia yang saling menjaga dan menguatkan saudara sebangsa. Tanpa petasan, tanpa kembang api, namun dengan hati yang lebih peka, jiwa yang lebih rendah hati, dan kepedulian yang tertanam kuat di dalam dada. (*)
Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).


















