Berita

Inovasi Kuliner Banyumas Tampil di Festival Komukino ke 11

×

Inovasi Kuliner Banyumas Tampil di Festival Komukino ke 11

Sebarkan artikel ini
rangkaian Festival Komukino ke-11 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang (USM)
rangkaian Festival Komukino ke-11 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang (USM)

Semarang, NARASIKOE.COM- Ada yang berbeda pada Festival Komukino ke 11 tahun ini, Karesidenan Banyumas menampilkan inovasi kuliner khas daerah yakni dua menu inovatif berbasis kuliner tradisional, yakni Tempe Mendoan Krispi dan Dawet Ayu khas Banjarnegara yang dikemas ulang menjadi Dawet Bangjo.

Dalam rangkaian Festival Komukino ke-11 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang (USM), Festival budaya tahunan ini mengusung tema “Jateng Ayem”, yang merepresentasikan nilai ketenteraman, harmoni, dan kebersamaan masyarakat Jawa Tengah.

Melalui booth kuliner, Karesidenan Banyumas menghadirkan dua menu inovatif berbasis kuliner tradisional, yakni Tempe Mendoan Krispi dan Dawet Ayu khas Banjarnegara yang dikemas ulang menjadi Dawet Bangjo. Inovasi ini menjadi salah satu sajian kuliner yang menarik perhatian pengunjung karena memadukan cita rasa tradisional dengan konsep penyajian modern.

BACA JUGA  Program Pembangunan Berjalan Efektif, IPM Kota Semarang Capai 85,80

Selain itu, menu tempe mendoan krispi dihadirkan sebagai pengembangan dari tempe mendoan khas Banyumas. Jika biasanya disajikan setengah matang, pada Festival Komukino ke-11 mendoan dikreasikan menjadi versi krispi dan disajikan dengan balutan saus pedas manis, sehingga memberikan sensasi rasa baru tanpa menghilangkan identitas kuliner aslinya.

Sementara itu, Dawet Ayu khas Banjarnegara yang dikemas dalam konsep Dawet Bangjo menjadi menu yang paling terpandang dan banyak dibicarakan pengunjung. Dawet ini disajikan dengan perpaduan warna abang (merah) dan ijo (hijau) yang merepresentasikan keharmonisan dan keberagaman budaya. Keunikan lainnya terletak pada kemasan snack tray berbentuk gelas dengan wadah yang menyatu, sehingga praktis, estetik, dan sesuai dengan karakter festival.

BACA JUGA  Pariwisata Jateng Unggul Secara Nasional, Ahmad Luthfi Andalkan Aglomerasi dan Desa Wisata

Untuk satu paket snack tray, Dawet Bangjo dipasarkan dengan harga Rp20.000. Selain itu, pengunjung juga dapat membeli menu secara terpisah, dengan harga Dawet Bangjo Rp7.000 dan Rice Bowl Rp13.000, sehingga memberikan pilihan yang fleksibel dan terjangkau bagi pengunjung.

Selama pelaksanaan festival, booth kuliner Karesidenan Banyumas memperoleh banyak ulasan positif dari pengunjung, baik dari segi rasa, tampilan, maupun konsep inovasi. Dawet Bangjo menjadi salah satu sajian yang paling sering dipilih dan direkomendasikan pengunjung di antara booth kuliner karesidenan lainnya.

Ketua Karesidenan Banyumas, Nurul Khoiriyah mengatakan jika pemilihan menu tempe mendoan dan Dawet Ayu khas Banjarnegara didasarkan pada kesesuaiannya dengan tema besar Festival Komukino ke-11, yaitu “Jateng Ayem”. Menurutnya, kedua kuliner tersebut merepresentasikan suasana santai, rukun, dan ayem yang lekat dengan kehidupan masyarakat wilayah Banyumas Raya.

BACA JUGA  Gubernur: Bupati dan Wali Kota se-Jateng Dilarang Nglencer Selama Nataru

“Dawet Ayu dan mendoan merupakan kuliner khas yang sangat dekat dengan masyarakat Banyumas Raya. Keduanya menggambarkan kesederhanaan, kehangatan, dan keharmonisan. Melalui inovasi rasa dan kemasan, kami ingin menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan makna budayanya,” ujarnya.

Kehadiran inovasi kuliner Karesidenan Banyumas dalam Festival Komukino ke-11 tidak hanya menjadi sarana promosi makanan khas daerah, tetapi juga menjadi media komunikasi budaya yang memperkuat identitas lokal Jawa Tengah. Melalui pendekatan kreatif, kuliner Banyumas Raya tampil sebagai simbol harmonisasi antara tradisi dan modernitas.