Opini

Ketika Budaya Asing Lebih Dikenal daripada Budaya Sendiri

×

Ketika Budaya Asing Lebih Dikenal daripada Budaya Sendiri

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – COBA tengok keseharian kita hari ini. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, layar gawai tak pernah jauh dari tangan. Di sana, budaya asing mengalir deras—musik, film, gaya bicara, cara berpakaian, hingga pola pikir. Semuanya tampil menarik, rapi, dan terasa “kekinian”. Tanpa disadari, kita pun mengonsumsinya setiap hari, pelan-pelan, hingga akhirnya terasa akrab.

Masalahnya bukan pada budaya asing itu sendiri. Dunia sekarang memang sudah tanpa sekat. Yang menjadi soal, mengapa di tengah arus global itu, budaya sendiri justru kian terasa asing di rumah sendiri?

Di Jawa Tengah, daerah yang kaya akan seni dan tradisi, kondisi ini sungguh terasa kontras. Kita punya wayang, ketoprak, tembang macapat, tari rakyat, hingga tradisi desa yang sarat makna. Namun, banyak yang hanya kita ingat saat ada lomba, peringatan hari jadi daerah, atau acara seremonial lainnya.

Ya, tak terasa, kita sering kali lebih hafal budaya orang lain daripada budaya dan cerita dari tanah kita sendiri. Kita tahu tren global terbaru, tetapi gagap menjelaskan filosofi di balik karya batik yang kita kenakan.

BACA JUGA  MBG di Persimpangan Amanat dan Kelalaian

Kita juga bangga saat budaya lokal yang kita miliki diakui oleh dunia, tetapi sehari-hari enggan menyapanya. Budaya pun akhirnya hanya menjadi simbol, bukan lagi laku hidup.
Padahal, seni dan budaya lokal bukan sekadar hiburan atau hiasan acara. Ia adalah penopang nilai-nilai kehidupan.

Dalam seni tradisi Jawa Tengah tersimpan ajaran tentang keselarasan, unggah-ungguh, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perbedaan. Nilai-nilai yang justru terasa langka di tengah kehidupan modern yang serbacepat, bising, dan mudah tersulut emosi.

Ironisnya, upaya penguatan budaya sering berhenti di permukaan. Festival budaya digelar megah, panggung dibangun, dokumentasi dibuat rapi. Namun setelah itu selesai, perhatian pun ikut surut. Seniman kembali berjuang sendiri, sanggar seni bertahan dengan swadaya, dan regenerasi berjalan apa adanya. Budaya dirayakan, tetapi belum sepenuhnya dirawat.

BACA JUGA  Keracunan Massal, Alarm Keras Tata Kelola Dapur Publik

Di sisi lain, generasi muda kerap dituding menjauh dari budaya lokal. Tuduhan ini mungkin terlalu sederhana. Bisa jadi bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena budaya disajikan dengan cara yang kurang membumi. Terlalu formal, terlalu kaku, atau terjebak pada nostalgia. Padahal, budaya bisa lentur. Ia bisa berdialog dengan zaman, masuk ke ruang digital, berkolaborasi dengan kreativitas baru tanpa kehilangan ruhnya.

Dekat dengan Keseharian

Budaya asing begitu cepat diterima karena dikemas menarik dan dekat dengan keseharian. Pertanyaannya, mengapa budaya lokal tidak diperlakukan dengan keseriusan yang sama? Mengapa seni tradisi sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan bagian dari gaya hidup?

Di sinilah refleksi penting perlu dilakukan, bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga oleh masyarakat, oleh kita semua. Sebab, dalam sehari-hari, kita juga sering lebih dekat dengan budaya asing daripada budaya kita sendiri.

Menguatkan seni dan budaya lokal Jawa Tengah sejatinya bukan upaya menutup diri dari pengaruh luar. Ini bukan soal menolak globalisasi, melainkan soal memperkuat filter untuk melindungi nilai-nilai yang telah lama hidup di ruang kehidupan kita semua.

BACA JUGA  Otonomi Daerah dan Daya Tarik Investasi

Dengan demikian, memperkuat budaya lokal akan memperkuat fungsi sebagai benteng kultural. Bukan tembok tinggi yang menutup ruang akulturasi, melainkan akar yang menahan agar kita tidak mudah tumbang oleh arus kuat yang datang dari luar sehingga kita tidak kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, persoalannya sederhana: kita ingin menjadi bagian dari dunia, tanpa kehilangan diri sendiri. Jawa Tengah memiliki modal budaya yang kuat untuk itu. Tinggal bagaimana kita memperlakukannya—apakah terus disimpan sebagai warisan yang dipuja dari jauh, atau dihidupkan sebagai identitas yang benar-benar kita jalani.

Sebab, rumah yang kuat bukan rumah yang menutup pintu rapat-rapat, melainkan rumah yang penghuninya tahu betul apa yang layak dijaga sambil tetap membuka pintu dan jendela untuk dunia. (*)

Tim Redaksi

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…

Opini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara…