NARASIKOE.COM – ADA malam-malam ketika hujan tidak lagi terdengar sebagai musik alam. Ia berubah menjadi ketukan kecemasan, mengetuk atap rumah, halaman belakang, dan hati warga yang tinggal di tepi Sungai Bodri.
Di Dusun Pangempon, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, hujan turun bukan sekadar membawa air, tetapi juga membawa ingatan tentang tanggul yang ambrol, tanah yang retak, dan rasa takut yang belum benar-benar pergi.
Salah satu warga Dusun Pangempon, Prasetyanto dan keluarganya, mengenal malam-malam itu dengan baik. Malam ketika tidur menjadi pilihan yang terlalu berisiko. Ketika barang-barang rumah dipindahkan ke bagian depan, bukan untuk pindahan, melainkan untuk bersiap dan berjaga jika air dan tanah memutuskan untuk datang tanpa permisi. Juga ketika jarak 1,5 meter antara rumah dan sisa tanggul sungai terasa seperti batas tipis antara aman dan petaka. Ia merasakan retakan di teras belakang rumahnya bukan sekadar garis di tanah. Retakan itu adalah tanda. Retakan itu isyarat bahwa alam sedang berbicara, meski manusia sering kali terlalu sibuk untuk mendengarnya.
Ya, Sungai Bodri di belakang rumahnya yang dulu mengalir sebagai sumber kehidupan, kini mengalir membawa kegelisahan. Airnya terus bergerak, tak pernah menunggu siapa pun, apalagi urusan kewenangan.
Bagi Prasetyanto dan sekian banyak warga yang tinggal di dekat sungai itu, bencana bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Ia sebenarnya sudah memberi tanda kedatangannya. Ia sampaikan tanda itu perlahan, bertahap, dan berulang. Dimulai dari hujan deras, disusul arus yang meninggi, lalu tanah yang terkikis sedikit demi sedikit. Hingga suatu hari, yang tersisa hanyalah jarak yang makin dekat antara rumah dan kehancuran.
Kini, sudah setahun lebih sejak longsor pertama terjadi, laporan tentang kondisi itu telah dia sampaikan kepada pihak yang berwenang. Bersamaan dengan itu, harapan juga sempat dititipkan.
Namun waktu yang berjalan seperti aliran sungai, terus mengalir, tak pernah berhenti, tak pernah membawa kabar tentang harapan itu. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah segenap pertanyaan yang sama: kapan rasa aman itu kembali ia miliki?
Pemerintah tentu memiliki peta kewenangan. Ada garis administrasi yang rapi di atas kertas. Sungai ini milik provinsi, penanganan di tingkat kabupaten tentu sangat terbatas. Pernyataan pejabat di tingkat kabupaten itu didengar dan diterima Prasetyanto dengan perasaan optimistis meski dia tahu optimisme itu tak benar-benar menghilangkan kecemasan.
Semua benar, semua sah. Namun di hadapan hujan yang turun semalaman, garis-garis batas kewenangan, juga segenap harapan yang dulu ia titipkan bersama laporan kejadian, tak pernah terlihat nyata. Yang terasa hanyalah dingin, basah, dan rasa waswas.
Berdamai dengan Ketidakpastian
Prasetyanto pun akhirnya belajar berdamai dengan ketidakpastian yang tak kunjung datang. Dia memotong rumah, memajukan bangunan, mengurangi ruang hidup keluarganya sendiri agar sedikit menjauh dari ancaman tanggul yang terus tergerus.
Adaptasi itu memang menjadi pilihan terakhir yang bisa dia lakukan ketika perlindungan yang dia harapkan tak kunjung datang. Dalam diam, dia bersama keluarganya tetap bertahan.
Penanganan darurat yang dilakukan di beberapa titik, yang dia dengar dari sang pejabat itu, tentu patut diapresiasi. Alat berat yang didatangkan itu sudah mewujudkan harapan meski sementara.
Namun sungai tidak pernah berdiri sendiri. Ia panjang, ia menyatu dengan alam dan warga sekitarnya sehingga ancamannya pun menyebar ke semua wilayah di dekatnya. Selama penanganan masih bersifat parsial, selama perhatian masih datang setelah kerusakan terjadi, kecemasan akan tetap menjadi teman setia semua warga di kanan kirinya.
Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah dan siapa yang berwenang. Ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, mendengar suara yang sering tenggelam oleh hujan dan birokrasi. Suara warga yang hanya ingin tidur nyenyak di rumahnya sendiri, tanpa takut terbangun oleh runtuhnya tanah di belakang rumah. Sebab pada akhirnya, negara hadir bukan hanya lewat aturan dan kewenangan, tetapi lewat rasa aman yang benar-benar dirasakan warganya.
Dan selama hujan masih membuat warga terjaga semalaman, barangkali ada yang belum selesai untuk dipahami tentang arti kehadiran itu. Sungai akan terus mengalir. Hujan pun akan terus turun. Pertanyaannya tinggal satu: apakah rasa aman akan segera menyusul sebagai jawaban atau terus hanyut bersama waktu? (*)
Kamalul Yakin, editor Narasikoe.com. Artikel ini disempurnakan dengan bantuan akal imitasi (AI).


















