Berita

Kesehatan Mental Kunci Keluarga Tangguh, DP3A Semarang Perkuat Layanan PUSPAGA untuk Perempuan dan Anak

×

Kesehatan Mental Kunci Keluarga Tangguh, DP3A Semarang Perkuat Layanan PUSPAGA untuk Perempuan dan Anak

Sebarkan artikel ini
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang menggelar Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikosososial (DKMP) bagi jejaring dan tenaga layanan PUSPAGA Kota Semarang.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang menggelar Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikosososial (DKMP) bagi jejaring dan tenaga layanan PUSPAGA Kota Semarang.

Semarang, NARASIKOE.COM- Isu kesehatan mental kini menjadi perhatian serius dalam upaya perlindungan keluarga, terutama bagi perempuan dan anak. Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) terus memperkuat layanan kesehatan mental dan psikososial berbasis keluarga melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).

Hal tersebut ditegaskan usai menggelar Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental dan Psikosososial (DKMP) bagi jejaring dan tenaga layanan PUSPAGA Kota Semarang yang digelar selama tiga hari, pada 13–15 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga layanan agar mampu memberikan dukungan psikologis awal bagi keluarga yang menghadapi persoalan psikososial, khususnya perempuan dan anak. 

Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto, menegaskan bahwa kesehatan mental bukan lagi isu pendukung, melainkan fondasi utama dalam membangun keluarga yang sehat dan berdaya.

BACA JUGA  KAI Daop 4 Semarang Pastikan 215 Sarana Siap Layani Libur Nataru 2025/2026

“PUSPAGA sebagai garda terdepan layanan keluarga diharapkan mampu melakukan penguatan kesehatan mental bagi orang tua dan anak. Ini menjadi upaya bersama agar orang tua dapat memberikan pengasuhan yang layak melalui kondisi mental yang sehat,” ujar Eko Krisnarto. 

Ia menambahkan, tantangan keluarga di era modern semakin kompleks, mulai dari konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga persoalan pengasuhan anak. Kondisi tersebut kerap berdampak langsung pada kesehatan mental perempuan dan anak, yang menjadi kelompok paling rentan.

Berdasarkan berbagai temuan nasional, lebih dari separuh masyarakat mengalami gangguan kecemasan, sementara satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental. Ironisnya, hanya sebagian kecil yang mampu mengakses layanan kesehatan jiwa secara memadai. Kesenjangan inilah yang mendorong PUSPAGA memperluas peran sebagai gerbang awal dukungan kesehatan mental keluarga. 

BACA JUGA  Persiapan Pengamanan Nataru, Polda Jateng Gelar Rakor Lintas Sektoral

Melalui pelatihan DKMP, tenaga layanan PUSPAGA dibekali keterampilan Dukungan Psikologis Awal (DPA) dengan metode Look, Listen, Link—mengamati kondisi klien, mendengarkan secara empatik, serta menghubungkan dengan layanan lanjutan bila diperlukan. Pendekatan ini dinilai efektif untuk merespons persoalan psikologis sejak dini, sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Selain itu, pelatihan juga menekankan pentingnya psikoedukasi dan penguatan jejaring berbasis komunitas. Edukasi tentang pola asuh, komunikasi sehat dalam keluarga, serta dukungan tumbuh kembang mental anak menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa. 

DP3A Kota Semarang menegaskan bahwa upaya perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, hingga masyarakat dan kader di tingkat kelurahan.

BACA JUGA  Wujudkan Swasembada Pangan 2026, Pemprov Teken Komitmen Bersama Bupati-Wali Kota se-Jateng

“Kesehatan mental keluarga adalah investasi jangka panjang. Ketika perempuan dan anak terlindungi secara psikologis, maka keluarga akan lebih tangguh, dan pada akhirnya berdampak pada kualitas masyarakat secara keseluruhan,” pungkas Eko Krisnarto. 

Dengan penguatan peran PUSPAGA melalui DKMP, Kota Semarang menegaskan komitmennya sebagai kota yang ramah perempuan dan peduli anak, sekaligus responsif terhadap tantangan kesehatan mental keluarga di masa kini.