Opini

Memacu Daya Tarik Wisata

×

Memacu Daya Tarik Wisata

Sebarkan artikel ini

NARASIKOE.COM – BERITA viral pada akhir tahun 2025 kemarin soal sepinya jumlah kunjungan wisatawan, baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara menjadi sebuah ironi. Sebab, Bali selama ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik dan menjadi jaminan untuk mendulang devisa negara. Hal itu bahkan sudah terbukti membawa dampak sistemik terhadap geliat ekonomi bisnis di Bali.

Oleh karena itu, berita viral tersebut menjadi catatan penting bagi kepariwisataan di Indonesia secara umum, juga semua destinasi wisata pada khususnya. Betapa tidak, saat ini semua daerah pada dasarnya bisa memacu daya tarik wisata daerah masing-masing dengan berbagai cara, termasuk promosi wisata melalui influencer.

Artinya, destinasi wisata pada era now tidak bisa lagi mengandalkan keunggulan komparatif, tapi sudah saatnya semuanya harus mengandalkan keunggulan kompetitif. Bahkan, Pulau Komodo dengan komodonya yang sebelumnya mampu menjadi pemikat kunjungan wisatawan saat ini bisa disaingi oleh daya tarik lainnya.

Berita lain yang juga viral pada akhir 2025 adalah sepinya kunjungan wisatawan ke Grojogan Sewu di Tawangmangu, Karanganyar. Artinya, kedua kasus ini menjadi catatan menarik agar pada masa depan secara umumnya dan pada tahun 2026 secara khusus bisa menjadi pelajaran di balik kasus serupa.

BACA JUGA  Perekonomian Jateng: Kinerja Solid di Tengah Ketidakpastian Global

Argumen yang mendasari, dampak sistemik dari pariwisata bagi masyarakat yang ada di sekitar objek tersebut, termasuk aspek pemasukan bagi daerah, sangatlah nyata. Oleh karena itu, pada era otonomi daerah ini, ketika kebutuhan pendanaan makin tinggi untuk memacu pembangunan maka aspek kepariwisataan menjadi salah satu hal penting untuk diberdayakan demi menambah pasokan untuk anggaran daerah.

Sebab, saat ini, mengandalkan pasokan dana dari pusat lewat Dana Alokasi Umum (DAU) atau Dana Alokasi Khusus (DAK) cenderung makin meredup, apalagi saat ini juga ramai rumor tentang Dana Desa (DD) yang mulai tersendat.

Identifikasi Keragaman

Belajar bijak dari kedua kasus di atas maka menjadi penting untuk melakukan pemetaan dan identifikasi keberagaman daya tarik wisata bagi semua daerah. Hal ini tidaklah mudah meski di sisi lain juga membutuhkan koordinasi dan sinergi antara pusat dan daerah.

BACA JUGA  Upah Naik Hidup Tetap Seret

Argumen yang mendasari, daya tarik wisata bukan sekadar komitmen untuk mendulang devisa dan menarik sebanyak mungkin kunjungan wisatawan, tapi yang juga tidak bisa diabaikan adalah bagaimana experience wisatawan di berbagai destinasi wisata bisa menimbulkan niat kunjungan ulang yang sekaligus menjadi marketing bagi destinasi wisata untuk memacu gairah kunjungan bagi calon wisatawan lain.

Jadi, bukan tidak mungkin jika wisatawan kecewa dan atau dikecewakan maka tidak akan mau lagi datang berkunjung. Dampak berantainya, memberikan rekomendasi negatif di media sosial (medsos). Sebab, saat ini semuanya bisa dengan mudah diviralkan. Jadi, destinasi wisata haruslah cermat, pandai, dan jeli memanfaatkan medsos dan mempromosikan pengalaman terbaiknya.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kedua kasus di atas ternyata dipengaruhi oleh banyak aspek. Karena itu, ketika kunjungan akhir tahun 2025 di Yogyakarta melonjak drastis maka realitas ini juga menarik untuk dicermati. Mengapa Bali dan Grojogan Sewu sepi, sementara Yogyakarta justru makin ramai, terutama di kawasan Malioboro. Apa yang berbeda? Apa yang terjadi?

BACA JUGA  Modifikasi Cuaca: Ikhtiar Darurat di Tengah Kepungan Banjir Pantura

Salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan adalah keterlibatan para pedagang kuliner di semua destinasi wisata. Sebab, semua wisatawan juga pasti butuh makan minum yang kemudian ini juga terkait dengan penetapan harga. Artinya, salah kaprah pemahaman di kalangan pedagang untuk “ngepruk” harga kepada wisatawan karena pada akhirnya hal itu justru sangat merugikan dirinya dan pariwisatanya.

Sebab, wisatawan akan kapok bahkan sangat mungkin kejadian semacam itu akan viral yang pada akhirnya memicu keengganan calon wisatawan untuk berkunjung. Artinya, dampak yang terjadi adalah mati bersamaan dan berkelanjutan baik destinasi wisatanya maupun pedagangnya.

Sebab, sekarang semua wisatawan makin cerdas dan medsos bisa sangat mudah memviralkan apa saja yang dialami seseorang, lebih-lebih jika yang dialaminya adalah sebuah pengalaman pahit di sebuah destinasi wisata yang sudah terkenal. (*)

Dr Edy Purwo Saputro SE MSi, dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo (UMS).

Opini

NARASIKOE.COM – SETIAP kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada yang berbicara lewat bangunan tinggi, ada pula yang menuturkan kisahnya…